RSS

PUASA WAJIB DAN SUNNAH

A. PENGERTIAN

Kata shiyam atau puasa berasal dari kata “shama-yashumu-shiyaman” dengan pengertian menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat ikhlas karena Allah semata.

Dalam kitab minhajul muslim terjemahan oleh Syeikh Abu Bakr Jabir al Jazairi hal 413 disebutkan bahwa Puasa menurut bahasa ialah menahan. Sedang puasa menurut syari’at ialah menahan dengan niat ibadah dari makanan dan minuman, hubungan suami istri, dan semua yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenam matahari.

B. MACAM-MACAM PUASA

1. Puasa Wajib

a. Puasa Ramadhan dan hukum melaksanakannya

Puasa dibulan Ramadhan adalah salah satu dari rukun islam yang lima. Maka hukumnya Fardhu ‘Ain, yakni setiap muslim yang memenuhi syarat wajib melaksanakan puasa. Hal ini didasarkan pada firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S al Baqarah:183).

Dan Sabda nabi Muhammad SAW yang artinya ;

“Dan dirikanlah Islam itu atas lima perkara : persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, membayar Zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan Puasa di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim).

Namun Allah membebankan kewajiban tersebut kepada orang yang telah memenuhi syarat saja. Adapun orang yang di pandang memenuhi syarat berdasarkan syari’at islam adalah sebagai berikut :

a. Beriman/Islam (muslim-Mukmin)

b. Berakal sehat

c. Dewasa

d. Suci (dari haid dan Nifas)

e. Sanggup melakukan puasa

1) Cara-cara puasa wajib

a. Menentukan Awal dan Akhir Puasa.

Untuk menentukan awal dan akhir puasa ramadhan dapat dilakukan dengan cara-cara

Pertama, Ru’yah, yaitu melihat dengan mata kepala atau menggunakan alat tertentu terhadap wujudnya hilal (bulan tsabit) awal bulan.

Kedua, Hisab, yaitu menghitung posisi hilal dengan bantuan ilmu Falak/ Hisab /Astronomi.

b. Niat pada malam harinya.

Hakikat niat adalah kesengajaan yang bergetar dalam hati untuk melakukan sesuatu. Jadi bukan lafaz yang di ucapkan. Bahkan malafazkan niat adalah termasuk perbuatan ghairu masyru’ (tidak dituntunkan), yang harus ditinggalkan. Makan hendaklah niat puasa ramadhan sebelum terbit fajar. Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Barang siapa sebelum fajar tidak menetapkan (niat) hendak puasa maka tidak sah baginya puasanya” (Riwayat Lima Ahli Hadits).

c. Makan sahur.

Disunnahkan pula dalam melakukan puasa ini makan sahur, yaitu makan pada waktu sesudah lewat tengah malam dan disunnahkan untuk mengakhirkan sahur ini.

d. Meninggalkan Segala Yang Membatalkan Puasa.

Selama meninggalkan puasa yaitu ddari terbit fajar sampai matahari terbenam taanlah diri anda untuk tidak makan untuk tidak makan, minum dan berhubungan badan suami istri hingga terbenam matahari.

e. Segera Berbuka ketika Maghrib.

Dan setelah matahari terbenam (Maghrib) bersegeralah berbuka berbuka. Sesuai dengan hadits nabi yang artinya : “orang yang paling aku cintai diantara umat-umatku ialah orang yang segera berbuka” (HR. Imam Turmuzi).

2) Orang-orang Yang Tidak Puasa dan Ketentuan-ketentuan Baginya:

a. Perempuan yang sedang dating bulan (haid) atau sedang nifas.

Aisyah berkata: “ saya haid dimassa rasulullah, maka kami disuruh mengqadha dan tidak disuruh mengqadah shalat(HR. Bukhari & Muslim)

b. Orang yang sedang sakit atau sedang dalam perjalanan(pepergian jauh).

Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah-184).

c. Orang yang sedang dalam keadaan terpaksa.

dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. (Al-Baqarah-184).

3) Yang Membatalkan Puasa.

Ada dua macam hal-hal yang membatalkan puasa seseorang, yaitu : pertama yang membatalkan puasa dan berakibat untuk mengqadha dihari yang lain sebanyak yang ditinggalkan, dalam hal ini dikarnakan makan, minum, datang bulan (haid), atau nifas. Dan yang kedua yang berakibat selain megqada juga harus atau wajib membayar khafarat, hal ini disebabkan karena melakukan seksual suami istri disiang hari dibulan ramadhan.

Membayar kafarat ialah menunaikan salah salah satu dari tiga pilihan berdasarkan urutan prioritas sebagai berikut:

1. Membebaskan seorang budak

2. Puasa dua bulan berturut-turut

3. Memberi makan kepada 60 orang miskin sebanyak satu mud (setengh kilogram) setiap orangnya.

b. Puasa Nazar

Puasa ini dilakukan untuk memenuhi janji kepada Allah yang telah diucapkanya.

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Q.S Maryam : 26)

c. Puasa Qadha

Puasa ini dilakukan apabila ada seseorang sedang melakukan puasa Ramadhan kemudian melakukan hal-hal yang membatalkannya, maka ia wajib menggantinya pada hari lain.

d. Puasa Kifarat (Tebusan)

Puasa yang wajib dilaksanakan oleh seseorang sebagai tebusan, Karena melanggar suatu atuaran. Diantara contohnya yaitu: orang yang sengaja membatalkan puasa dibulan Ramadhan dengan sengaja mengqadakan hubungan seksual dengan istrinya. Puasa ini adalah sebagai pengganti karena ttidak mampu memerdekakan budak.

e. Puasa ganti Rugi

Puasa yang harus dilakukan oleh seseorang yang tidak mampu melakukan suatu perbuatan. Misalnya dalam hal orang berhaji, yang karena suatu alasaan sehingga tidak dapat menjalaknan smua rukun ikhram, ia diharuskan puasa 3 hari sbagai pengganti sedekah dan qurban menyeembelih binatang.(QS. Al-Baqarah:196)

 2. Puasa Sunnat.

Adapun macam-macam puasa sunnah beserta keutamaannya masing-masing yaitu:

a. Puasa enam hari di bulan Syawal, baik dilakukan secara berturutan ataupun tidak. Keutamaan puasa romadhon yang diiringi puasa Syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun (HR. Muslim).

b. Puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang dimaksud adalah puasa di sembilan hari yang pertama dari bulan ini, tidak termasuk hari yang ke-10. Karena hari ke-10 adlah hari raya kurban dan diharomkan untuk berpuasa.

c. Puasa hari Arofah, yaitu puasa pada hari ke-9 bulan Dzuhijjah. Keutamaan: akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.

d. Puasa Muharrom, yaitu puasa pada bulan Muharrom terutama pada hari Assyuro’. Keutamaannya adalah bahwa puasa di bulan ini adalah puasa yang paling utama setelah puasa bulan Romadhon (HR. Bukhori)

e. Puasa Assyuro’. Hari Assyuro’ adalah hari ke-10 dari bulan Muharrom. Nabi sholallohu ‘alaihi wasssalam memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari Assyuro’ ini dan mengiringinya dengan puasa 1 hari sebelum atau sesudahnhya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya berpuasa pada hari ke-10. Keutamaan: akan dihapus dosa-dosa (kecil) di tahun sebelumnya (HR. Muslim).

f. Puasa Sya’ban. Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Keutamaan: bulan ini adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Robb semesta alam (HR. An-Nasa’i & Abu Daud, hasan).

g. Puasa pada bulan Harom (bulan yang dihormati) yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab. Dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah pada bulan-bulan tersebut termasuk ibadah puasa.

h. Puasa Senin dan Kamis. Namun tidak ada kewajiban mengiringi puasa hari Senin dengan puasa hari Kamis atau sebaliknya. Keduanya merupakan hari di mana amal-amal hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Alloh.

i. Puasa tiga hari setiap bulan. Disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari putih (Ayyaamul Bidh) yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan. Sehingga tidaklah benar anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa puasa pada harai putih adalah puasa dengan hanya memakan nasi putih, telur putih, air putih, dsb.

j. Puasa Dawud, yaitu puasa sehari dan tidak puasa sehari. Keutamaannya adalah karena puasa ini adalah puasa yang paling disukai oleh Alloh (HR. Bukhori-Muslim).

C. HIKMAH PUASA

Adapun diantara hikmah puasa yaitu :

1. Untuk melatih disiplin spiritual (rohani),

2. Puasa menjadi dasar disiplin moral,

3. Nilai social ibadah puasa, dan

4. Sehat jasmani.

  Daftar Pustaka

Abdullah ‘Aly, Syamsul Hidayat. Al Ubudiyah. Surakarta : LPID-UMS, 2008.

Abu Bakr Jabir al Jazairi. Ensiklopedi Muslim, Minhajul Muslim. Jakarta : Darul Falah, 2000.

Salim bin ‘Ied-Al-Hilali.Ensiklopedi Larangan(menurut al-quran dan asunnah). Surabaya: pustakka Imam Asy-Syafi’I,1999.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: