RSS

ILMU QASHASHIL QUR’AN

17 Mei

KATA PENGANTAR

Asslamu`alaikum Warahmatullahiwabarakatuh.
Puji syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, dzat yang menciptakan alam dan seisinya, dzat yang menghidupkan dan mematikan, dzat yang memperpanjang siang dan malam dengan teratur, dialah satu-satunya dzat yang wajib disembah oleh hamba-hambanya.Dialah yang apabila berkehendakuntuk mengangkat derajat hambanya tidak ada siapapun yang mampu untuk mencegahnya dan apabila ingin menghinakan hambanya tidak ada sesuatu apapun yang bisa menghalanginya. Sholawat beserta salam teruntuk Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliah menuju zaman islamiah, zaman yang di ridhai oleh Allah SWT.
Makalah ini hadir tidak lepas dari bimbingan Allah SWT dan Rasul-Nya, dan disini kami mencoba mengangkat tema yang menjelaskan apa sebenarnya Qashashil Qur`an, Adapun poin-poin yang terkandung didalamnya menerangkan tentang kisah-kisah dalam Al Qur’an yang didalamnya menjadi pelajaran bagi umat manusia.
Akhir kata, semoga apa yang kami tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua.. Amin.

Wassalamu`alaikum Warahmatullahiwabarakatuh.
Surakarta, 30 Desember 2008.

BAB I
PENDAHULUAN

Telah diyakini bahwa Al-Qur’an berisi petunjuk bagi manusia. Ajaran-ajarannya disampaikan secara variatif serta dikemas sedemikian rupa. Ada yang berupa informasi, perintah dan laranagan, dan ada juga yang dimodifikasi dalam bentuk deskripsi kisah-kisah yang mengandung ‘ibrah, yang dikenal dengan istilah “Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an”.
Pada makalah ini kami akan mencoba membahas mengenai kisah-kisah dalam Al-Qur’an, agar kita semua dapat mengetahui apakah sebenarnya kisah-kisah yang ada dalam Al Qur’an benar-benar terjadi atau tidak dan agar kita mengetahui apa sebenarnya tujuan Allah menguraikan kisah-kisah dalam Al-Qur’an.

BAB II
ILMU QASHASHIL QUR’AN

A. Pengertian Qashashil Qur’an
Dari segi bahasa, kasa kisah berasal dari bahasa Arab “Al Qashshu” atau “Al Qishshatu” yang berarti “cerita”. Ia serati dengan “tatabbu’ul atsar” yaitu “pengulangan kembali hal masa lalu”. Kata Al qashash adalah bentuk masdar, seperti tersebut dalam Al-Qur’an surat Al Kahfi:64

Artinya: Musa berkata:”Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (QS Al Kahfi:64)

Qashsash juga berarti berita atau kisah, seperti dalam QS Yusuf:111,

Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Dari segi istilah, kisah berarti berita-berita mengenai suatu permasalahan dalam masa-masa yang saling berturut-turut. Qashashil Qur’an adalah pemberitahuan Al-Qur’an mengenai hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.

B. Macam-macam Qashashil Al-Qur’an
Kisah-kisah di dalam Al-Qur’an itu bermacam-macam, ada yang menceritakan para Nabi dan umat-umat dahulu dan ada yang mengisahkan berbagai macam peristiwa dan keadaan, dari masa lampau, masa kini, ataupun masa yang akan dating.

a. Ditinjau dari Segi Waktu
Ditinjau dari segi waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam Al-Qur’an, maka qashashil Al-Qur’an itu ada tiga macam, sebagai berikut:
a) Kisah hal-hal ghaib pada masa lalu (al-qashashul ghuyub al-madhiyah)
Yaitu kisah yang menceritakan kejadian-kejadian ghaib yang sudah tidak bisa ditangkap panca indera yang terjadi di masa lampau.
Contohnya: seperi kisah Nabi Nuh, Nabi Musa, dan kisah Maryam.
b) Kisah hal-hal ghaib pada masa kini (al-qashshul ghuyub al-hadhirah)
Yaitu kisah yang menerangkan hal-hal ghaib pada masa sekarang, (meski sudah ada sejak dulu dan masih akan tetap ada sampai masa yang akan datang) dan yang menyingkap rahasia orang-orang munafik.
Contohnya seperti kisah yang menerangkan tentang Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya, pada malaikat, jin, setan dan siksaan neraka, kenikmatan surga, dan sebagainya.
c) Kisah-kisah ghaib pada masa yang akan datang (alqashashul ghuyub al-mustaqbilah)
Yaitu kisah-kisah yang menceritakan peristiwa-peristiwa yang akan datang yang belum terjadi pada waktu turunnya Al-Qur’an, kemudian peristiwa tersebut betul-betul terjadi. Karena itu, pada masa sekarang ini, berarti peristiwa yang dikisahkan itu telah terjadi.
Contohnya seperti kemenanagan bangsa Romawi atas Persia, yang diterangkan surah Ar-Rum:1-4.

b. Ditinjau dari Segi Materi
a) Pertama, kisah para Nabi terdahulu. Kisah ini mengandung informasi mengenai dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembanagan serta akibat-akibat yang diterima oleh mereka yang mempercayai dan golongan yang mendustakan. Misalnya kisah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Harun dan Isa.
b) Kedua, kisah-kisah yang menyangkut pribadi-pribadi dan golongan-golongan dengan segala kejadian yang dinukil oleh Allah untuk dijadikan pelajaran. seperti kisah Maryam, Dzulqarnain, Qarun, dan Ashabul kahfi.
c) Ketiga, kisah-kisah menyangkut peristiwa-peristiwa pada masa Rasulullah SAW. Seperi perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab, Bani Quraizah, Bani Nadzir, dan Zaid bin Haritsah, Ahza Quraisyah, Bani Nadzir dan Zaid bin Haristsah dengan Abu Lahab.

C. Pengulangan Sebagian Kisah dan Hikmahnya
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan, bahwa penyajian kisah-kisah dalam Al-Qur’an begitu rupa mengandung beberapa hikmah. Diantaranya, pertama, menjelaskan balaghah Al-Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Kisah yang berulang itu dikemukakan di setiap tempat dengan uslub yang berbeda satu dengan yang lainnya serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat yang lain.
Kedua, menunjukkan kehebatan Al-Qur’an. Sebab mengemukakan suatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentukpun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab, merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah.

Ketiga, mengundang perhatian yang besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan tanda betapa besarnya perhatian Al-Qur’an terhadap masalah tersebut. Misalnya kisah Musa dengan Fir’aun. Kisah ini menggambarkan pergulatan sengit antara kebenaran dengan kebatilan.
Keempat, penyajian seperti ini menunjukkan perbedaan tujuan yang karenanya kisah itu diungkapkan. Sebagian dari makna-maknanya diterangkan di suatu tempat, karena hanya itulah yang diperlukan, sedangkan makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain, sesuai dengan tuntutan keadaan.

D. Faedah Qashashil Qur’an

Adanya beberapa kisah dalam Al-Qur’an membawa banyak faedah, yang penting diantaranya sebagai berikut:
a) Menjelaskan prinsip dakwah kepada agama Allah dan keterangan pokok-pokok syariat yang dibawa oleh masing-masing Nabi/ Rasul.
b) Memantapkan hati Rasulullah dan ummatnya serta memperkuat keyakinan kaum mukminin terhadap kemenangan yang benar dan kehancuran yang fatal/salah.
c) Mengoreksi pendapat para ahli kitab yang suka menyembunyikan keterangan dan petunjuk-petunjuk kitab sucinya dan membantahnya dengan argumentasi-argumentasi yang terdapat pada kitab-kitab sucinya sebelum diubah dan diganti oleh mereka sendiri.
d) Lebih meresapkan pendengaran dan memantapkan keyakinan dalam jiwa para pendengarnya, karena kisah-kisah itu merupakan salah satu dari bentuk peradaban.
e) Untuk memperlihatkan kemukjizatan Al-Qur’an dan kebenaran Rasulullah di dalam dakwah dan pemberitaannya mengenai umat-umat yang dahulu ataupun keterangan-keterangan beliau yang lain.
f) Memperlihatkan para Nabi dahulu dan kitab-kitab sucinya, serta mengabadikan nama baik dan jasanya. Contohnya seperti penjelasan surah Yusuf:111.

E. Tujuan Qashashil Al-Qur’an

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an secara umum bertujuan kebenaran dan semata-mata tujuan keagamaan. Jika dilihat dari keseluruhan kisah yang ada maka tujuan-tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut.
Pertama, salah satu tujuan cerita itu ialah menetapkan adanya wahyu dan kerasulan. Dalam Al-Qur’an tujuan ini diterangkan dengan jelas diantaranya dalam QS Yusuf:2-3

Artinya:” Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum Mengetahui”. (QS Yusuf:2-3).
Dan QS Al Qashash:3.sebelum mengutarakan cerita Nabi Musa, terlebih dahulu Al Qur’an menegaskan

Artinya:” Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun de- ngan benar untuk orang-orang yang beriman”. (Al Qashash:3).
Dalam Q.S Ali Imran : 44 pada permulaan cerita Maryam disebutkan

Artinya:”Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad)”.(QS Ali Imran:44)
Kedua, menerangkan bahwa agama semuanya dari Allah, dari masa Nabi Nuh sampai dengan masa Nabi Muhammad SAW, bahwa kaum muslimin semuanya merupakan satu umat, bahwa Allah yang Maha Esa adalah Tuhan bagi semuanya. (Q.S Al Anbiya’ : 51-92)
Ketiga, menerangkan bahwa agama itu semuanya dasarnya satu dan itu semuanya dari Allah (QS Al A’raf:59)

Artinya:” Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)”. (QS AL A’raf:59)
Keempat, menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh nabi-nabi dalam berdakwah itu satu dan sambutan kaum mereka terhadap dakwahnya itu juga serupa. (Q.S Hud)
Kelima, menerangkan dasar yang sama antara agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dengan Nabi Ibrahim AS, secara khusus, dengan agama-agama bangsa-bangsa Israel pada umumnya dan menerangkan bahwa ini lebih erat dari pada hubungan yang umum antara agama. Keterangan ini berulang-ulang disebut dalam cerita Nabi Ibrahim, Musa dan Isa AS.

F. Gaya Kisah Dalam AL Qur’an

Menurut Sayyid Quthb gaya kisah yang ada dalam AlQur’an antara lain:
• Memulai dengan akhir kisah, kemudian menceritakan dari awal kisah secara terperinci . Contoh model ini adalah kisah Nabi Musa AS dengan Fir’aun.
• Memulai dengan rangkuman kisah, kemudian beralih dengan rinican cerita dari awal sampai akhir. Contoh model ini adalah kisah Ashhabul Kahfi.
• Secara kronologis memulai dari awal sampai bagian akhir kisah. Contoh model ini adalah kisah Nabi Isa AS.
• Menggubahnya dalam bentuk drama. Contoh model ini adalah kisah Nabi Ibrahim AS dengan anaknya Nabi Ismail AS.

BAB III
KESIMPULAN

Uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu memiliki realitas yang diyakini kebenarannya, termasuk peristiwa yang ada di dalamnya. Ia bagian dari ayat-ayat yang diturunkan dari sisi yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana yaitu Allah.
Kedua, kisah-kisah dalam Al-Qur’an dimaksudkan sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan yang asli yaitu tujuan keagamaan yang menyiratkan adanya kebenaran, pelajaran dan peringatan.
Ketiga, Al-Qur’an tidak menceritaan kejadian dan peristiwa secara kronologi dan tidak memaparkannya secara terperinci. Hal ini dimaksudkan sebagai peringatan tentang berlakunya hukum Allah dalam kehidupan sosial serta pengaruhnya baik dan buruk dalam kahidupan manusia.
Keempat, sebagian kisah dalam Al-Qur’an merupakan petikan sejarah yang bukan berarti menyalahi sejarah, karena pengetahuan sejarah adalah sangat kabur dan penemuan-penemuan arkeologi sangat sedikit untuk mengungkap kisah-kisah dalam Al-Qur’an dalam kerangka pengetahuan modern.

DAFTAR PUSTAKA

Chirzin, Muhammad. 2003. Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta : Dana Bakti Prima Yasa
Saefuddin Buchari, Didin. 2005, Pedoman memahami kandungan Al Qur’an. Bogor: Granada Sarana Pustaka
Djalal, Abdul. 2008 ‘Ulumul Qur’an. Surabaya : Dunia Ilmu
Al Qaththan, Syaikh Manna’.2006.Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Mei 2012 in solo

 

One response to “ILMU QASHASHIL QUR’AN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: