RSS

KOMPONEN PSIKOLOGI DALAM FITRAH

17 Mei

MAKALAH
Ilmu Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam struktur yang paling baik di antara makhluk Allah yang lain. Struktur manusia terdiri dari unsur jasmaniah dan rohaniah, atau unsur fisiologis dan unsur psikologis.
Dalam struktur jasmaniah dan rohaniah itu, Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkembang, dalam psikologi disebut potensialitas atau disposisi.
Dalam pandangan Islam kemampuan dasar/pembawaan itu disebut dengan “FITRAH” yang dalam pengertian etimilogis mengandung arti “ kejadian “, oleh karena itu fitrah berasal dari kata fatoro yang berarti “menjadikan”
Jika kita tinjau perkembangan hidup manusia dan perkembangan caranya berfikir, maka nyatalah sudah bahwa pokok asli pendapat ialah tentang adanya Yang Maha Kuasa dan Ghaib. Inilah perasaan yang semurni-murninya dalam jiwa manusia. Kalau terjadi manusia itu membantah adanya Yang Ada, bukanlah itu permulaan.
Pendeknya kalau dia membantah, dia adalah membantah jiwa murninya sendiri, lidahnya tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terasa di hatinya.
Sebab itu maka perasaan akan adanya Yang Maha Kuasa adalah fitrah manusia. Pada makalah ini akan membahas tentang komponen psikologis yang dimiliki oleh manusia, diantara komponen-komponen yang lainnya.

BAB II
PEMBAHASAN
Komponen Psikologi dalam Fitrah
Jika kita perhatikan berbagai pandangan para ulama dan ilmuwan Islam yang telah memberikan makna terhadap istilah “FITRAH” yang diangkat dari firman Allah dan sabda Nabi bahwa fitrah adalah suatu kemampuan dasar berkembang manusia yang dianugrahkan Allah kepadanya. Di dalamnya terkandung berbagai komponen psikologi yang satu sama lain berkaitan dan saling menyempurnakan bagi hidup manusia.
Komponen-komponen potensial tersebut adalah:

  • Kemampuan dasar untuk baragama Islam (ad-dinul qayyimaah), di mana faktor iman merupakan intinya beragama manusia. Muhammad ‘Abduh, Ibnu Qayyim, Abu A’lah Al-Maududi, Sayyid Qutb berpendapat sama bahwa fitrah mengandung kemampuan asli untuk beragama Islam, karena Islam adalah agama fitrah atau identik dengan fitrah. Ali Fikry lebih menekankan pada peranan heriditas (keturunan) dari bapak-ibu yang menentukan keberagamaan anaknya. Faktor keturunan psikologi (heriditas kejiwaan) orang tua anak merupakan salah satu aspek dari kemampuan dasar manusia itu.
  • Mawahid (bakat) dan Qabiliyyat (tendensi atau kecenderungan) yang mengacu kepada keimanan kepada Allah. Dengan demikian maka “fitrah” mengandung komponen psikologi yang berupa keimanan tersebut. Karena iman bagi seorang mukmin merupakan elan vitale (daya penggerak utama) dalam dirinya yang memberi semangat untuk mencari kebenaran hakiki dari Allah. Prof. DR. Mohammad Fadhil Al-Djamaly, juga berpendapat bahwa Islam itu adalah Agama yang mendorong manusia untuk mencari pembuktian melalui penelitian, berfikir dan merenungkan ke arah iman yang benar.
  • Naluri dan kewahyuan (revilasi) bagaikan dua sisi dari uang logam; keduanya saling terpadu dalam perkembangan manusia. Menurut Prof. DR. Hasan Langgulung, FITRAH itu dapat dilihat dari dua segi yakni: Pertama, segi naluri sifat pembawaan manusia atau sifat-sifat Tuhan yang menjadi potensi manusia sejak lahir, dan yang Kedua, dapat dilihat dari segi wahyu yang diturunkan kepada Nabi-nabi-Nya. Jadi potensi manusia dan agama wahyu merupakan satu hal yang nampak dalam dua sisi; ibaratnya mata uang logam yang mempunyai dua sisi yang sama. Mata uang itu kita ibaratkan fitrah.Dilihat dari sisi ia adalah potensi dan sisi lain adalah wahyu.Prof. Langgulung memandang bahwa sifat-sifat Tuhan yang 99 macam (Asma Al-Husna) merupakan potensi yang masing-masing berdiri sendiri. Tetapi bila dikombinasikan akan timbul sifat-sifat atau potensi manusia yang jumlahnya berjuta-juta macamnya.
  • Kemampuan dasar untuk beragama secara umum, tidak hanya terbatas pada agama Islam. Dengan kemampuan manusia dapat dididik menjadi agama Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, namun tidak dapat dididik menjadi atheist (anti Tuhan). Pendapat ini diikuti oleh banyak ulama Islam yang berpaham ahli Mu’tazilah antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun.
  • Dalam fitrah tidak terdapat komponen psikologis apapun, karena fitrah diartikan sebagai kondisi jiwa yang suci bersih yang reseptif terbuka kepeda pengaruh eksternal, termasuk pendidikan. Kemampuan untuk mengadakan reaksi atau responsi (jawaban) terhadap pengaruh dari luar tidak terdapat di dalam fitrah.

Pendapat ini dikembangkan oleh para ulama ahli Sunnah Wal Jama’ah atau beberapa filosof muslim antara lain: Al-Ghazaly. Untuk lebih jelasnya berikut ini dikemukakan sebuah diagram tentang fitrah dan komponen-komponennya:

A. DIAGRAM FITRAH

Diagram di atas menunjukkan aspek-aspek psikologis FITRAH yang saling pengaruh mempengaruhi antara satu aspek terhadap aspek lainnya. Aspek-aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Fitrah adalah faktor kemampuan dasar perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir yang berpusat pada POTENSI DASAR untuk berkembang.
  • Potensi Dasar itu berkembang secara menyeluruh (integral) yang menggerakkan seluruh aspek-aspeknya yang secara mekanistis satu sama lain saling pengaruh mempengaruhi menuju ke arah tujuan tertentu.
  • Aspek-aspek FITRAH adalah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.
  • Komponen-komponen dasar tersebut meliputi:

a) Bakat, suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah) dan keahlian (profesional) dalam berbagai bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada kemampuan Kognisi (daya cipta), Konasi (kehendak), dan Emosi (rasa) yang disebut dalam psikologi filosofis dengan Tri Chotomie (tiga kekuatan rohaniah) manusia.
b) Insting atau gharizah, adalah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar kemampuan insting inipun merupakan pembawaan sejak lahir. Dalam psikologi pendidikan kemampuan ini termasuk “KAPABILITAS” yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa melalui belajar.
Jenis-jenis tingkah laku yang digolongkan insting ialah:

  1. Melarikan diri (flight) karena perasaan takut (fear)
  2. Menolak (repulsion) karena jijik (disgust)
  3. Ingin tahu (curiosity) karena menakjubi sesuatu (wonder)
  4. Melawan (pugnacity) karena kemarahan (anger)
  5. Merendahkan diri (self abasement) karena perasaan mengabdi (subjection)
  6. Menonjolkan diri (self-assertion) karena adanya harga diri atau manja (elation)
  7. Orang tua (parental) karena perasaan halus budi (tender)
  8. Berkelamin (sexual) karena keinginan melakukan reproduksi
  9. Mencari sesuatu (quisition) karena keinginan mendapatkan sesuatu yang baru.
  10. Berkumpul (quisition) karena ingin bergaul/bermasyarakat.
  11. Membangun sesuatu (construction) karena mendapatkan kemajuan.
  12. Menarik perhatian orang lain (appeal) karena ingin diperhatikan oleh orang lain.

Jenis-jenis insting tersebut di atas adalah menurut pandangan Mac Dougall, ahli Psikologi Sosial Inggris. Dia mengartikan insting sebagai tendensi khusus dari jiwa manusia/binatang yang terbawa sejak lahir yang menimbulkan tingkah laku tanpa melalui proses belajar.

c) Nafsu dan dorongan-dorongannya (drives). Dalam Tasawuf dikenal dengan adanya nafsu-nafsu Lawwamah yang mendorong ke arah perbuatan mencela dan merendahkan orang lain (egosentros). Nafsu Ammarah (Polemos) yang mendorong ke arah perbutan merusak, membunuh atau memusuhi orang lain (destruktif). Nafsu birahi (eros) yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntutan akan pemuasan hidup kelamin. Nafsu Mutmainnah (religios) yang mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Al Ghozaly, nafsu manusia terdiri dari nafsu malakiah yang cenderung ke arah perbuatan mulia sebagai halnya sebagai halnya para malaikat, dan nafsu bahimiah yang mendorong ke arah perbuatan rendah sebagaimana nafsu binatang.

d) Karakter atau watak tabiat manusia adalah merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak kelahirannya. Karater terbentuk oleh kekuatan dalam diri manusia, bukan terbentuk karena pengaruh dari luar. Karakter sangat erat hubungannya dengan personalitas (kepribadian) seseorang. Oleh karena itu ciri-ciri antara keduanya hampir tak dapat dibedakan dengan jelas.
e) Hereditas atau Keturunan adalah merupakan faktor kemempuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologis dan fisiologis yang diturunkan/diwariskan oleh orang tua baik dalam garis yang dekat maupun yang telah jauh.
f) Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan hati nurani (conscience) manusia yang membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus di luar kesadaran akal pikirannya, namun mengandung makna yang bersifat konstruktif bagi kehidupannya. Intuisi biasanya diberikan Tuhan kepada orang yang bersih jiwanya. Di kalangan kaun sufi, intuisi ini lebih banyak dirasakan sebagai getaran hati nurani yang merupakan panggilan Tuhan untuk berbuat sesuatu yang amat khusus.
BAB III

KESIMPULAN

Fitrah dilihat dari pengertian nativistik adalah faktor hereditas (keturunan) yang bersumber dari orang tua, termasuk keturunan beragama (religiositas). Pengertian nativistik yang dimaksudkan adalah suatu paham yang menyatakan bahwa perkembangan manusia dalam hidupnya secara mutlak ditentukan oleh potensi dasarnya. Proses kependidikan sebagai upaya untuk mempengaruhi jiwa anak dididk tidak berdaya merubahnya, paham yang nativisme ini berasal dari pandangan filosofis ahli pikir Italia bernama Lomrosso dan ahli pikir Jerman bernama Schopenheuer pada abad pertengahan.

Fitrah yang dimiliki manusia itu merupakan karunia dari Allah kepada mereka, yang mana didalamnya terdapat beberapa komponen-komponen, baik itu komponen psikologis, komponen potensi, ataupun itu komponen dasar.

Manusia memiliki kemampuan untuk menerima sifat-sifat Tuhan dan mengembangkan sifat-sifat tersebut adalah merupakan potensi dasar manusia yang terbawa sejak lahir

DAFTAR PUSTAKA

 Al-Djamaly, Mohammad Fadhil, Prof. Dr, Tarbiyah Al-Insan Al-Jadid; Nahwa Tarbiyah Mu’munatin; Al-Syirkah Al-Tunisiyah Littauzi’, 1977.
 Arifin, H.M. Drs. M.Ed; Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 2000.
 Hamka, Prof, Dr.; Filsafat Ketuhanan, Surabaya, Karunia, 1985.
 Langgulung, Hasan, Prof, Dr. “ Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Mei 2012 in Palembang

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: