RSS

PENGERTIAN RABB DALAM AL QUR’AN DAN SUNNAH

17 Mei

KATA PENGANTAR

Asslamu`alaikum Warahmatullahiwabarakatuh.
Puji syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Dzat Yang Menciptakan alam dan seisinya, Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Dzat Yang Memperpanjang siang dan malam dengan teratur, Dialah satu-satunya Dzat Yang wajib disembah oleh hamba-hambaNya. Dialah yang apabila berkehendak untuk mengangkat derajat hambanya tidak ada siapapun yang mampu untuk mencegahnya dan apabila ingin menghinakan hambaNya tidak ada sesuatu apapun yang bisa menghalanginya. Sholawat beserta salam teruntuk Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliah menuju zaman islamiah, zaman yang di ridhai oleh Allah SWT.
Makalah ini hadir tidak lepas dari bimbingan Allah SWT dan Rasul-Nya, dan disini kami mencoba mengangkat tema yang menjelaskan tentang Pengertian Rabb dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Semoga makalah yang ada ditangan pembaca ini bermanfaat bagi semuanya,Akhirnya, apabila terdapat banyak kesalahan, itu datangnya dari syetan dan diri saya sendiri dan saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, serta mohon kritik dan sarannya. Bilamana terdapat kebenaran dalam penyusunan makalah ini, maka hal itu datangnya hanya dari Allah SWT.

Wassalamu`alaikum Warahmatullahiwabarakatuh.

. Surakarta, 08 Januari 2009

PENDAHULUAN

Akidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya terbatas kepada apa yang ada di salam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab tidak seorang pun sesudah Allah, tentang apa-apa yang wajib yang wajib bagiNya dan apa yang harus disucikan dariNya melainkan Allah sendiri. Dan tidak seorang pun sesudah Allah selain Rasulullah SAW.
Maka segala apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah tentang hak Allah kita harus mengimanimya, meyakininyadan mengamalkannya. Sedangkan apa yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah kita hares menolak dan menafikannya dari Allah.
Benar rusaknya amal tergantung pada aqidahnya, maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal.

Artinya : “Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.”(QS. Al Kahfi : 110)

Oleh kaena itu pada kesempatan kali ini kami tertarik untuk mengangkat judul “Pengertian Rabb dalam Al-Qur’an dan Sunnah” agar dapat memahami serta memahamkan bagaimana memahami konsep ketuhanan yang benar agar tidak terjerumus ke dalam lembah kesesatan yang amat kita sayangkan dan khawatirkan.

PEMBAHASAN

PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Rabb adalah bentuk masdar,berasal dari yang berarti
(mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada kedaan yang lain, sampai pada keadaan yang sempurna).Dan bisa diungkapkan dengan
.
Jadi Rabb adalah kata masdar yang dipinjam untuk fa’il ( pelaku ). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafahkan ( ditambah kepada yang lain ), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk yang lainNya. Seperti firman Allah SWT :

Rabb semesta Alam ( Al-Fatihah :2 )

Juga firmanNya,

“Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu” (As-Syu’ara:26)

Dikatakan tuan rumah,pemilik rumah (pemilik kuda) dan diantaranya lagi adalah perkataan nabi Yusuf As yang difirman oleh Allah SWT

“Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya(Yusuf : 42)

Dan juga Dalam firmanNya

“Kembalilah kepada tuanmu ….”(Yusuf: 50)
Rosulullah SAW bersabda dalam hasits “Unta yang hilang”,

“Sampai sang pemilik menemukannya”

Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah jika ma’rifat dan mudhaf, sehingga kita mengatakan misalnya: (Tuhan Allah) (Penguasa semesta alam) atau (Tuhan manusia).
Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah kecuali jika diidhafahkan, misalnya: (tuan rumah), atau (pemilik unta) dan lainnya.
Makna adalah Allah Pencipta alam semesta, Pemilik, Pengurus dan Pembimbng mereka dengan segala nikmatNya dan pemberi balasan atas segala perbuatan makhlukNya.
Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa konsekuensi rububiyah adalah adanya perintah dan larangan kepada hamba, membalas yang berbuat baik dengan kebaikan, serta meghukum yang jahat atas kejahatannya.
Menurut Al-Qur’an, Tuhan adalah satu-satunya Pencipta dan Penguasa alam semesta. Segala sesuatu berasal dariNya, dan berakhir pada-Nya. Selaruh makhluk menymbah Allah. Tujuan di balik penciptaan manusia adalah untuk mendekati kepada Allah dengan menyembahNya. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Dari sini, setiap langkah yang diambil harus ditunjukkan kepada peraihan ridhaNya dan untuk mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Pencarian untuk menyingkap alam tampa terkecuali terkait pada aturan ini. Prioritas haruslah diberikan pada pengamatan keagungan di dalam perbuatan ilahi, dan pada pemanfaatan kemungkinan-kemungkinan yang tersedia bagi manusia, untuk meraih kebahagiaan abadi.
Keyakinan kukuh dalam tauhid mempersenjatai peneliti dengan sebuah alam yang komprehensif, dan ia tidak lagi melihat alam sebagai sekadar kumpulan bagian-bagian yang saling terisolasi;tetapi ia tidak melihat kesaling hubungan diantara bagian-bagian tersebut dan kesamaan asal-usulnya. Ia melihat kesatuan dibalik keragaman ini. Pengalaman-pengalaman generasi lampau menunjukkan bahwa para sarjana masa lalu berusaha menemukan sebuah model yang dapat membantu menggambarkan seluruh alam semesta.

KESIMPULAN
Rabb adalah kata masdar yang dipinjam untuk fa’il ( pelaku ). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika diidhafahkan ( ditambah kepada yang lain ), maka hal itu bisa untuk Allah dan bisa untuk yang lainNya
Jadi, Rabb adalah satu-satunya Pencipta dan Penguasa alam semesta. Segala sesuatu berasal dariNya, dan berakhir pada-Nya. Selaruh makhluk menymbah Allah. Tujuan di balik penciptaan manusia adalah untuk mendekati kepada Allah dengan menyembahNya.
Jadi jelas sekali bahwa Allah adalah tuhan yang mengatur alam semesta ini, Dialah yang menciptakannya, yang memberi rezki, yang menghidupkan, yang mematikan yang membolak-balikkan hati dan yang mengatur seluruh urusan. Tidak ada tuhan yang mengatur selain Allah, tidak ada raja bagi mereka selain Allah dan tidak ada yang menciptakan mereka selain Allah, baik mereka mengakuinay ataupun tidak, baik mereka mengetahuinya ataupun tidak. Tetapi orang-orang mukmin mengetahui itu semua, dan karena itu mereka beriman. Berbeda dengan orang-orang yang tidak mengetahui atau yang ingkar, yang sombong dan angkuh. Mereka itu tidak mau mengakui semua itu dan tidak mau tunduk, padahal diapun tahu, bahwa Allah yang mengatur dia dan yang menciptakan dia. Maka pengenalan semacam itu berarti menyiksa diri.

DAFTAR PUSTAKA

Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan. 2008. Kitab Tauhid. Jakarta: Darul Haq

Mehdi Golshani. 2003. Filsafat-Sains Menurut Al-Qur’an. Bandung: Mizan
Ibnu Taimiyah, Taqiyuddin.1984. Al ‘Ubudiyah. Surabaya: PT Bina Ilmu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Mei 2012 in solo

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: