RSS

STRATEGI DAKWAH MUHAMMADIYAH

17 Mei

Pendahuluan

Strategi semula adalah istilah militer. Strategi sering dikaitkan dengan taktik. Strategi berarti kepandaian atau kecakapan untuk memenangkan suatu peperangan. Taktik adalah kepandaian atau kecakapan unuk memenagkan suatu pertempuran. Untuk memenangkan suatu peperangan diperlukan kemenangan-kemenangan dalam setiap petempuran. Karena peperangan terdiri dari berbagai pertempuran.
Dalam perkembangannya istilah strategi dipakai dalam berbagai bidang ilmu dan kegiatan. Sehingga muncul istilah strategi politik, strategi ekonomi, strategi pemasaran, strategi dakwah dan lain-lain. Dalam kaitan ini makna strategi kemudian menjadi ‘langkah-langkah atau tindakan-tindakan penting dan menentukan yang harus diambil’ dalam mencapai tujuan tertentu.
Dalam kaitannya dengan strategi dakwah, maka berarti langkah-langkah atau tindakan penting yang harus diambil oleh MTDK untuk keberhasilan perjuangan Muammadiyah.
Untuk dapat memahami strategi dakwah Muhammadiyah, kiranya perlu dipahami terlebih dahulu apa dan bagaimana keputusan-keputusan rapat, kongres, musyawarh dan muktamar Muhammadiyah yang terjadi dari waktu ke waktu dalam rangka mewujudkan dan mencapai tujuan Muhammadiyah.. Dari keputusan-keputusan itu dapat ditarik benang merah dan diketahui apa yang menjadi strategi dakwah Muhammadiyah.

Penguatan Sumber Daya Insani
Untuk keberhasilan dan kemajuan dakwah maka Muhammadiyah harus melakukan penguatan sumber daya insani (SDI) nya. Penguatan SDI ini menyangkut dua hal yaitu ;
Pertama, adalah peningkatan kuantitas mubaligh. Agar dakwah / tabligh Muhammadiyah dapat dilakukan di mana-mana dan kapan saja, maka Muhammadiyah harus memiliki mubaligh dalam jumlah yang banyak. Idealnya di setiap dusun (setingkat RT) Muhammadiyah memiliki sedikitnya seorang mubaligh atau dai. Dengan demikian di setiap desa akan terdapat sejumlah / banyak mubaligh / dai.. Jika di setiap dusun Muhammadiyah memiliki seorang dai / mubaligh, maka setiap hari, bahkan di setiap habis shalat jamaah, di lingkungan dusun itu bisa dilakukan pengajian, karena tidak perlu ada ketergantungan dengan mubaligh dari luar. Mubaligh di dusun itulah yang kemudian diharapkan menjadi inti jamaah sekaligus menjadi Bapak jamaah..
Kedua, adalah peningkatan kualitas mubaligh / dai, sehingga dai / mubaligh itu memiliki kompetensi (standar) tertentu untuk mewujudkan Muhammadiyah menjadi gerakan amar makruf dan nahi munkar. Kualitas mubaligh / dai itu menyangkut berbagai hal, Antara lain ;

  • Keimanan, ahlak, keihlasan, keuletan / kegigihan, ruh jihad, semangat jihad, semangat berkorban, ruh kemuhammadiyahan dll.
  • Keilmuan yaitu penguasaan ilmu agama, ilmu dakwah, ilmu-ilmu pendukung (sosiologi, antropologi, psikologi, politik, kebudayaan, manajemen dll.) , pemahaman visi dan misi dakwah Muhammadiyah., pemahaman strategi dan taktik dakwah
  • Penguasaan metodologi dan metode / cara (pengembangan masyarakat, termasuk pemanfaatan media dakwah)
  • Memiliki ketrmpilan-ketrampilan tertentu seperti computer dan alat-alat teknologi lainnya.
  • Untuk dai spesialis diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan khusus seperti, kristenisasi, isme-isme modern, seni-budaya, cerpenis, novelis, komponis, musikus, pertanian, peternakan, perkebunan, dagang dan lain-lain.
  • Ketrampilan dan pengalaman seperti dalam khutbah, pidato, komunikasi, menulis, pemaparan, praktek dakwah, berorganisasi dsb.
  • Kemampuan dalam manajemen dakwah (kemampuan bekerja sama dan dalam membangun jaringan dakwah)
  • Memiliki jaringan yang luas

Penguatan Organisasi dan Manajemen

Jika Muhammadiyah ingin berhasil dalam dakwahnya, maka organisasi Muhammadiyah harus dibangun sedemikian rupa, sehingga organisasi Muhammadiyah memiliki system yang rapih dan padu, yaitu seperti sebuah tubuh dengan jaringan organnya.. Jika otak memerintahkan, maka secara otomatis semua organ (bagian) tubuh berfungsi dan bergerak mengikuti perintah otak. Atau seperti jaringan listrik. Jika tombol utamanya di on kan, maka seluruh lampu yang terkait akan menyala, jika di offkan, maka seluruh lampu terkait akan mati. Organisasi Muhammadiyah sekarang ini belum seperti jaringan listrik, tetapi baru seperti kumpulan lampu teplok. Untuk menyalakanya harus dilakukan satu persatu. Karena itu menjadi tugas kita bersama bagaimana kita membangun organisasi kita menjadi sebuah system dan jaringan yang padu.
Selain dari pada itu, kita juga perlu memiliki sebuah system manajeman yang baik. Seperti bagaimana membuat perencanaan dakwah yang baik. Bagaimana membuat organisasi yang efisien dan efektif, menyiapkan kepemimpinan yang berkualitas. Bagaimana menggerakkan unit-unit kerja dan orang-orang dalam organisasi supaya dinamis, kreatif, inovatif dan produktif, Bagaimana melakukan pengawasan yang baik. bagaimana memobilisasi dana dakwah untuk membiayi dakwah / tabligh dan mentasharufkan secara efektif dan efisien.

Penguatan Sarana dan Media Dakwah

Agar dakwah kita mampu menciptakan / membangun kondisi yang kondusif, maka Muhammadiyah perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan media dakwahnya. Misalnya dalam rangka penguatan SDI perlu sarana untuk melakukan kaderisasi mubaligh seperti lembaga pendidikan kader dan pelatihan mubaligh (pesantren, fakultas agama, pusdiklat mubaligh, system kaderisasi mubaligh dsb.). Sarana transportasi untuk pengiriman mubaligh atau dai seperti mobil, motor, kapal jika mungkin pesawat. dsb. Sarana komunikasi dan penyiaran seperti majalah, bulletin, surat kabar, telepon, radio, tv, web site, internet. Sarana untuk pertemuan seperti masjid, gedung pertemuan dsb. .

Penguatan Dana Dakwah

Dana, meskipun bukan yang terpenting, tetapi merupakan hal yang sangat penting. Keberhasilan dakwah Nabi dan para sahabat, para khulafaur rasyidin, para mubaligh yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia (termasuk ke Indonesia), para pendiri organisasi Islam), dan dakwah Islam lainnya antara lain ditentukan oleh tersedianya dana. Jika dana cukup kemungkinan keberhasilan dakwah adalah lebih besar. Sebaliknya jika tidak tersedia dana, biasanya dakwah menjadi tersendat. Dana diperlukan untuk menyiapkan kader dai / mubaligh, untuk pengiriman mubaligh ke berbagai daerah, untuk biaya hidup / gaji mubaligh, untuk jaminan kesehatan mubaligh, untuk menyediakan sarana dan prasarana dan untuk membiayai operasional dakwah seperti penerbitan buku, majalah, pendirian dan dana opersional radio, surat kabar dsb.
Untuk itu setiap MTDK di wilayah, daerah dan juga cabang sebaiknya mulai memikirkan bagaimana menciptakan sumber-sumber dana dakwah, guna membiayai aktifitas dakwah di daerahnya masing-masing. Misalnya saja penggalangan donatur, wakaf produktif (saham, mobil untuk disewakan, rumah untuk disewakan, sawah, perkebunan, pabrik, toko, hak cipta dsb.), wakaf tunai, usaha-usaha bisnis (pompa bensin, toko, pabrik, perkebunan, peternakan, perikanan, percetakan, penerbitan, jasa dll.) dsb.

Jalur Dakwah Muhammadiyah

Muhammadiyah, menurut khithahnya memilih membina masyarakat / jalur masyarakat dan tidak memilih jalur politik praktis. Ini tidak berarti orang-orang Muhammadiyah anti politik dan tidak tahu politik. Justru sebaliknya, orang-orang Muhammadiyah harus memiliki pengetahuan politik yang lebih baik dibanding para politisi. Karena dalam kaitannya dengan politik, Muhammadiyah harus melakukan high politic, artinya politik adiluhung. Dengan demikian orang Muhammadiyah tidak menjadi politisi tetapi menjadi negarawan yang selalu memperjuangkan kepentingan semua orang, kepentingan Negara, kepentingan bangsa dan bukan kepentingan partai. Dengan high politic Muhammadiyah akan dapat menembus sekat-sekat politik dan dapat melakukan komunkasi dan pembinaan terhadap partai dan pengikut partai apa saja, melakukan komunkasi dengan para pejabat eksekutif dan legislative, untuk membangun bangsa dan Negara.

Khatimah

Demikialah beberapa hal yang berkaitan dengan strategi dakwah yang dapat disampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya. Wallahu ‘alam bishshawaab.

Lampiran – lampiran :.

1. Dakwah Pada Masa KHA Dahlan

  • Memperbanyak mubaligh, dengan menyelenggarakan kursus mubaligh.
  • Menggiatkan tabligh di kampung-kampung dan desa-desa.
  • Memperbanyak masjid dan mushala dan menjadikan masjid dan mushala untuk kegiatan pengajian dan tabligh.

2. Dakwah Pada Masa KH Mas Mansur ; Langkah 12 (1940)

  • Memperdalam iman,
  • Memperluas faham agama,
  • Memperbuahkan budi pekerti,
  • Menuntun amalan intiqad,
  • Menguatkan persatuan,
  • Menegakkan keadilan,
  • Melakukan kebijaksanaan,
  • Menguatkan tanwir,
  • Mengadakan musyawarah,
  • Memusyawarahkan putusan,
  • Mengawasi gerakan ke dalam,
  • Memperhubungkan gerakan luar,

3. Dakwah Pada Masa Ki Bagus Hadikusumo (1947)

  • Mengadakan mubaligh dan mubalighat istimewa,
  • Memberikan tuntunan keislaman bagi sekolah-sekolah,
  • Memberikan pertolongan bagi anak-anak yatim dari pahlawan-pahlawan kita yang gugur,
  • Melaraskan alat perlengkapan ibadah di masjid-masjid dan surau surau (langgar-langgar).
  • Menghidupkan kembali cabang dan ranting yang mati atau berihtiar mengadakan gantinya.
  • Memperdalam dan memperluas keisafan kepada seluruh anggota sebagai warga Negara merdeka.

4. Langkah Muhammadiyah 1953 – 1956.

……………………………………………………………………………………….
1.d. Tabligh.

I.Melaksanakan Politik Tabligh, berpedoman buku Politik Tabligh yang diterbitkan oleh Muhammdiyah Majelis Tabligh, ialah ;

  • Menggiatkan dakwah dengan tulisan dan segala macam siaran.
  • Menggiatkan tercapainya Tabligh di asrama, penjara, sekolah, dan tempat-tempat lain.
  • Memelihara mubaligh dengan Kursus Latihan perguruan
  • Mengadakan Konfrensi tabligh.
  • Dakwah Kemuhammadiyahan
  • Mengadakan Asrama Pendidikan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah

II.Usaha menggiatkan kembali pengiriman mubaligh-mubaligh ke daerah-daerah yang terbelakang.

III. Mengajak dan memberi penerangan Islam kepada kaum terpelajar, sehingga mereka mengerti dan mengerjakan keislam sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya.

IV. Menggiatkan kerjasama para ulama bersama Mhammadiyah dalam menegakkan Agama Islam.

V. Mengambil kesempatan sebanyak mungkin penyiaran Islam di RRI, baik yang merupakan pidato-pidato maupun yang merupakan kesenian dan kebudayaan.

5. Langkah Muhammadiyah 1956 – 1959

………
Menegakkan Dakwah Islam dengan menampakkan kepada dunia manusia tentang keindahan agama Islam, mendidik mereka kearah budi pekerti yang mulia, supaya peraturan-peraturan Islam dapat berlaku dalam masyarakat

6. Khithah Muhammadiyah 1959 – 1962
………
2. Dakwah

  • Menggiatkan dan menempatkan Tabligh sebagai lapangan penerangan Muhammadiyah untuk memberi pengertian keislaman kepada masyarakat pada umumnya dengan tujuan menarik, menginsyafkan dan membimbing mereka kepada Islam.
  • Menyadarkan keluarga Muhammadiyah tentang kewajiban berdakwah dengan mencukupi alat kelengkapannya, antara lain mengadakan dana dakwah.
  • Mempertinggi dan menyempurnakan mutu mubaligh Muhammadiyah dengan pendidikan kejuruan khusus..

7. Langkah Muhammadiyah 1967 (Berdasar Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 36 di Bandung) ;

I.Bidang Dakwah.
Menyususn pedoman, program dan rencanan kerja guna meningkatkan, meluaskan dan menyempurnakan perjuangan Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam dan Amar Makruf Nahi Munkar.
II. Peningkatan Pengertian dan realisasi Muhammadiyah Sebagai gerakan dakwah Islam dan Amar Makruf Nahi Munkar.
III.Struktur Pimpinan dan Tugas baru Dalam Bidang Dakwah kemasyarakatan.
a.Pimpinan Cabang’
1.Membentuk dan memelihara, mengorganisir dan memimpin anggota-anggota Muhammadiyah dalam lingkungannya, dalam melaksankan tugas kewajiban organisasi sebagai Gerakan Dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar, dalam mewujudkan maksud dan tujuan Muhammadiyah ialah setiap anggota Muhammadiyah menjadi mubaligh / mubalighat.
2.Memimpin bagian dalam lingkungannya untuk digunakan sebagai sarana (alat) dakwah Islam dalam bidang masing-masing baik isinya maupun ujudnya.
3.Mengkoordinir kegiatan dakwah yang dilakukan oleh badan-badan otonom Muhammadiyah di cabangnya.
4.Memimpin kerjasama dalam kegiatan dakwah dengan badan-badan lain.
b.Pimpinan Daerah;
1.Memimpin Pimpinan Cabang dalam daerahnya dalam melaksanakan tugasnya seperti tersebut dalam III. 1. a. 1,2,3,4 dan mengkoordinir cabang-cabang untuk kegiatan-kegiatan dan gerakan-gerakan yang bersifat se daerah.
2.Memimpin daerah terutama dalam hal untuk melaksanakan dakwah dalam bidang-bidang khusus.
3.Menyediakan mubaligh / mubalighat untuk kebutuhan di daerah (corps mubaligh).
4.Mengadakan dakwah Islam kepada golongan-golongan masyarakat / fungsionil tertentu setingkat, baik oleh Muhammadiyah sendiri ataupun dengan kerjasama dengan badan-badan / organisasi lain. Berhubung dengan tugas-tugas tersebut perlu dibentuk Majelis Dakwah Daerah yang tugasnya sebagai Badan Pemikir bagi Pimpinan Daerah dalam bidang dan persoalan dakwah.
c.Pimpinan Wilayah.
Pimpinan Wilayah bertugas seperti Pimpnan daerah, sesuai dengan tingkatnya.
d.Pimpinan Pusat
Pimpinan Pusat bertugas sebagai Pimpinan Wilayah sesuai dengan tingkatnya.

IV.Majelis Dakwah
Majelis Dakwah dibentuk di Daerah, Wilayah dan Pusat. Adapun di cabang, persoalan dan pimpinan dakwah amar makruf nahi munkar dikerjakan langsung oleh pimpinan cabang. Anggota-anggota Muhammadiyah di cabang menjadi mubaligh / mubalighat untuk melakukan tugas dakwah dan amar makruf nahi munkar kepada masyarakat.

Tugas Majelis Dakwah ;

Majelis Dakwah di Pusat, Wilayah dan daerah menjadi Pembina Pimpinan-pimpinan Muhammadiyah setingkat ;
a.Sebagai Badan pemikir / braintrust dalam persoalan dan bidang dakwah, amar makruf dan nahi munkar.
b.Sebagai pelaksana operasi dakwah amar makruf dan nahi munkar dengan atas nama Muhammadiyah terhadap obyek-obyek yang belum / tidak tercakup oleh tabligh yng dilakukan oleh mubaligh / mubalighat anggota Muhammdiyah di cabang dan bagian-bagian yang ada, ialah golongan masyarakat fungsional tertentu di tingkat masing-masing.
Untuk pelaksanaan tugas tersebut Majelis Dakwah dilengkapi dengan seksi-seksi ;
1.Seksi Penelitian dan Perencanaan, yang lapangan pemikiranya secara garis besarnya meneliti dan merencanakan usaha-usaha dan sasaran-sasaran, cara-cara, taktik, bahan, bentuk, pelaksana, pelaku, alat-alat, tempat atau daerah, waktu, biaya dan lain-lainnya.
2.Seksi Pendidikan yang lapangan pemikirannya, cara-cara pembentukan kader-kader mubaligh / mubalighat dengan langsung seperti kursu-kursus, up grading, refreshing, course bahan-bahan seminar ataupun tertulis berupa kursus-kursus tertulis, brosur-brosur tuntunan tabligh bahan-bahan mubaligh, diskusi, symposium dan lain sebagainya.
3.Seksi operasi dengan dilengkapi corps mubaligh / mubalighat yang lapangan pemikirannya (setelah mendapat bahan-bahan yang diperlukan) merencanakan daerah-daerah yang harus dioperasi dan sasaran-sasaran yang harus dioperasi dengan anggota-anggota Corps mubaligh yang tepat. Atau memberikan bahan-bahan operasi yang diserahkan kepada Pimpinan Muhammadiyah agar dapat diberikan kepada Badan-badan otonom atau majelis-majelis yang bersangkutan dalam pelaksanaan gerak dakwah.

V.Hal-hal Yang Selekasnya Perlu Dilaksanakan
a.Bagi Pimpinan Wilayah dan daerah
1.Membentuk Mejelis Dakwah yang anggota-anggotanya mencukupi keperluan dan kepentingannya.
2.Mengadakan seminar, musyawarah kerja, tuntunan-tuntunan up grading course, tuntunan symposium, tuntunan diskusi dan sebagainya.
3.Membentuk corps mubaligh / mubalighat guna mencukupi keperluan operasinya, baik dari segi ilmiahnya, maupun mentalnya ataupun dari segi banyak personilnya.
4.Mengadakn bimbingan, pimpinan dan pengontrolan kepada instansi-instansi di bawahnya untuk selekasnya mewujudkan pedoman pelaksanan Muhammadiyah sebagai Gerakan dakwah Islam dan Amar Makruf nahi Munkar.
5.Mengusahakan bekal-bekal tabligh atau pelajarn-pelajaran ketauhidan dan ahlak, hal-hal kemasyarakatan yang dapat diberikan kepada cabang-cabang.

b.Bagi Pimpinan Muhammadiyah Cabang
1.Selekas-lekasnya mengadakan pengajian mubaligh / mubalighat yang peserta seluruhnya dari anggota Muhammadiyah putra-putri yang pelajaran-pelajarannya ;
a). Ke dalam bersifat peneguhan dan pengokohan keislaman dan kemuhammadiyahan para peserta.
b) Untuk bekal tabligh keluar bersifat ilmu cara-cara bertabligh, cara berpidato, cara mengajar, cara bertabligh perorangan dan sebaginya
2.Mengintensifkan pengelompokan anggota-anggota Muhammadiyah dalam bentuk ranting-ranting dan jama-ah-jamaah guna menertibkan dan melancarkan tugas para anggota dalam berdakwah dan amar makruf nahi munkar serta dalam memelihara pribadi-pribadi anggota Muhammadiyah seperti takmirul masjid, tolong-menolong dan sebagainya.
3. Mengadakan pertemuan anggota-anggota Muhammadiyah sebagai mubaligh / mubalighat untuk menampung laporan-laporan hasil / reaksi tabligh-tablighnya serta membicarakan rencana-rencana tablignya serta memusyawarahkan rencana dan cara perluasan Muhammadiyah.

VI.Hal-hal Yang Perlu Diingati dan Diketahui.
Muhammadiyah harus selalu berusaha ;
a.Tajdid dalam faham agama dan masyarakat.
b.Keberanian memasuki masyarakat dengan tujuan membangun atas dasar ajaran Islam.
c.Tabsyir / bergembira dalam beramal mudah mengislamkan dan tidak mengkafirkan.
d.Ajakan Islam untuk masyarakat umum dengan tak memandang golongannya, pendidikannya, politiknya, kebangsaannya. Yang belum Islam diajak kepada Islam, yang sudah Islam diajak menyempurnakan keislamannya.
e. Dimengertinya ajaran-ajaran Islam dalam hal-hal yang menjadi keperluan masyarakat baik yang mengenai ekonomi, politik, dan social sampai sekecil-kecilnya umpamanya dalam tata rumah tangga perorangan.
f.Agar bagian dan badan-badan otonom Muhammadiyah benar-benar dipergunakan sebagai alat dakwah.

(Catatan : Tanwir 1967 diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 28 Juli –
1 Agustus 1967).
8. Khithah Perjuangan Muhammadiyah Ponorogo 1969

Dalam Khithah Perjuangan disebutkan ……………….
.
5.3. Dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar sebagaimana dimaksud itu, haruslah dilakukan melalui 2 (dua) bidang secara berbarengan (simultan) ialah ;
1. Bidang politik kenegaraan yang biasa disebut bidang politik praktis. Berjuang dalam bidang politik praktis adalah usaha untuk dapat memegang kekuasaan pemerintahan, untuk dapat membentuk masyarakat dengan jalan kekuasaan, kekuatan hukum, atau membentuk masyarakat dengan jalan paksaan yang sah. Dalam Negara demokrasi seperti ini / Negara kita Republik Indonesia, untuk dapat memegang kekuasaan pemerintahan itu, adalah dengan melalui Lembaga-lembaga Kenegaraan (legislative), MPR, DPR, mulai pusat sampai Daerah-daerahnya. Dengan menduduki lembaga-lembaga kenegarran (legislative) dan kemudian memegang kekuasaan pemerintahan (eksekutif), akan dapatlah membuat undang-undang dan peraturan-peraturan serta melaksanakan dan mengawasi pelaksanaannya. Dengan menduduki lembaga-lembaga legislative dan badan-badan eksekutif itu haruslah digunakan untuk dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar seefektif dan seefisien mungkin, untuk mengatur dan membentuk masyarakat yang sesuai dengan yang dicita-citakan.
2. Bidang masyarakat. Berjuang dalam bidang masyarakat adalah untuk mengolah dan menggarap masyarakat secara langsung memberi pengertian dan kesadaran masyarakat akan kebenaran dan keutamaan ajaran agama Islam sehingga masyarakat mau menerima dan melaksanakan ajaran-ajaran Islam dan ketentuan-ketentuannya.

5.4. Untuk melakanakan perjuangan dalam kedua bidang tersebut, haruslah dibuat / dibentuk alatnya masing-masing. Untuk Dakwah dan amar makruf dan nahi munkar dalam bidang politik praktis dengan alat organisasi politik yang lazim disebut Partai Politik, sedang untuk bidang masyarakat dengan alat organisas non partai. Hal itu diperlukan karena mengingat bahwa sifat, cara dan gaya berjuang dalam masing-masing bidang sangat berbeda, begitu juga efeknyapun sangat berbeda.

5.5. Muhammadiyah sebagai organisasi telah memilih dan menempatkan dan menempatkan diri dengan penuh kesadaran dan kemantapan sebagai Gerakan Dakwa islam dan Amar makruf nahi munkar dalam bidang masyarakat. Sedang untuk alat perjuangan ideologinya dalam bidang politik praktis, Muhammadiyah memerlukan adanya satu partai politik yang memperjuangkan cita-cita kenegaraan yang sesuai dengan faham dan misi Muhammadiyah. Partai tersebut berada di luar dan di samping organisasi Muhammadiyah.

5.6.1. Muhammadiyah tidak melakukan perjuangan dalam bidang politik praktis, Muhammadiyah bukan dan tidak akan menjadi Partai Politik.

5.6.2. Pada dasarnya Muhammadiyah tidak memasuki lembaga-lembaga politik. Semuanya itu bukan karena pandangan negative terhadap perjuangan dalam bidang politik praktis, tetapi semata-mata karena khithah perjuangannya, serta dengan kesadaran bahwa perjuangan dalam bidang masyarakat adalah sangat penting dan cukup mulia, tidak kalah pentingnya daripada perjuangan politik.

5.6.3. Dalam pada itu Muhammadiyah tetap menggarap soal-soal politik yang bersifat prinsip atau teori politik ialah dengan membuat konsep-konsep politik, yang dalam memperjuangkan, kalau harus melalui bidang praktis politik, dengan memalui partai politik tersebut. Sedang kalau memperjuangkannya dalam bidang masyarakat dilakukan sendiri oleh Muhammadiyah hanya caranya bukan sebagai kampanye / propaganda, tetapi sebagai dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar kepada masyarakat. Kalau dipandang perlu konsep-konsep politiknya itu secara langsung oleh Muhammadiyah dapat disampaikan kepada instansi yang bersangkutan , sebagai sumbangan pikiran Muhammadiyah dalam rangka tugas dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar dalam segala bidang dengan cara yang jauh dari sifat ambisi politik / kedudukan.

5.7 Dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar dalam bidang masyarakat yang menjadi tugas pokok Muhammadiyah adalah bermaksud mengolah dan menggarap masyarakat secara langsung, baik dalam bentuk perseorangan, kelompok / kolektif, mulai dari memberi keterangan / penerangan mengenai ajaran-ajaran Islam sampai kepada bimbingan pelaksanaannya, baik secara positif (amar makruf) atau secara negative (nahi munkar) dalam segala aspek kehidupan yang mencakup soal-soal I’tiqad, ibadah, akhlak, kebudayaan, pendidikan – pengajaran, ilmu pengetahuan, social, ekonomi sampai soal-soal politik kenegaraan dsb. Semuanya itu dijalankan oleh Muhammadiyah dengan gerakan-gerakan dan amalan-amalan dari pasa usaha-usahnya, berupa tabligh-tabligh, pengajian-pengajian, kursus-kursus, madrasah-madrasah, sekolah-sekolah, amalan penyantunan kemasyarakatan, seperti balai-balai kesehatan, panti-panti asuhan, pertolongan-pertolongan bencana alam dsb. Dengan demikian gerakan-gerakan dan amalan Muhammadiyah dalam usaha-usahanya haruslah memenuhi 2 (dua) fungsi, ialah ;
5.7.1. Sebagai alat dakwah Islam baik ujudnya maupun isinya.
5.7.2. Sebagai pengisian dan atau pengamalan dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar yang dikerjakan oleh Muhammadiyah.

6. Kedua ; Khithah perjuangan yang merupakan program dasar / beginsel program (mikro). Untuk melengkapi pegangan guna pedoman dalam melaksanakan program perjuangan lebih lanjut, maka disamping khithah yang berupa pola dasar (makro) seperti yang telah diterangkan di muka, perlu ditetapkan khithah yang berupa program dasar / beginsel program yang akan dijadikan dasar dalam membuat rencana-rencana kerja dalam tahap-tahap perjuangan. Dengan mengingat ;

6.1. Pola dasar perjuangan Muhammadiyah (khithah makro) sebagaimana diterangkan di muka, di mana dinyatakan dan ditegaskan bahwa Muhammadiyah .

9. Pedoman Kerja Pimpinan Mhammadiyah Majelis / Bagian Tabligh 1981 (Terlampir)

10. Keputusan Muktamar Ke 38 Tentang Program Muhammadiyah 1971 – 1974.

A, Ke dalam.
1. Bidang Personalia.
1.1. Pembinaa alam pikiran dakwah sentries (berpusat pada dakwah) dan dakwah oriented (selalu berpandangan dakwah).
1.2. Pembinaan sikap mental : dakwah minded (berjiwa dakwah),.
B. Keluar
Memntapkan dan meningkatkan kegiatan pelaksanaan dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar.

1. Tema Dakwah ; Popularisasi Agama Islam
2. Sasarannya ; Seluruh penduduk Negara RI.
3. Pedoman pokoknya ;
a. Policy / kebijaksanaan dakwah ;
b. Obyek dakwah
c. Subyek dakwah
d. Materi dakwah,
e. Sistem dan Metode dakwah
f. Organisasi (Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah).
g. Media dakwah
h. Strategi dan taktik dakwah

11. Program Muhammadiyah Tahun 1974 – 1977. Keputusan Muktamar Ke 39, di Padang 17 – 22 1975)

Realisasi Jamaah dan Dakwa Jamaah. (Lihat lampiran).

12. Keputusan Muktamar ke 40 di Surabaya ; Bidang Program ‘

2. Pendekatan Tabligh ;
a. Pengertian
b. Tujuan Tabligh
c. Faktor-faktor Tabligh
d. Proses Tabligh

13. Program Persyarikatan Muhammadiyah Periode 1985 – 1990 (Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta 1985).
.
Muqadimah ;
1. …
2. Menanamkan dan menyuburkan jiwa tabligh di seluruh jajaran warga Muhammadiyah
3. …..
4. ……
5. Menjadikan masjid sebagi suatu pusat kegiatan dakwah..

….
Prinsip Program
1.a. Amal usaha persyarkatan harus sesuai dengan fungsi dan tujuannya sebagai sarana dakwah amar makruf dan nahi munkar dalam rangka mencapai tujuan persyarikatan.

2. Orientasi kepada Dakwah amar makruf dan nahi munkar ;
a. Sesuai dengan sifat Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah, maka semua program persyarikatn harus berorientasi kepada dan dilaksanakan untuk tujuan dalam arti sebenar-benarnya.
b. Dakwah secara kesluruhan kegiatan dalam mengajak, menyeru umat manusia kepada Islam, sehingga mereka dapat memahami dan mengamalkannya dengan baik dan benar.
………..

14. Program Persyarikatan (di bidang Dakwah0 Muktamar ke 42 (di Yogyakarta)

……
III. Bidang Dakwah, Pendidikan dan Pembinaan Kesejahteraan Umat

A. Penyiaran Islam ;

1. Meningkatkan penyiaran Islam (tabligh) baik kuantitas maupun kualitas melalui berbagai aluran dan media (media masa cetak maupun elektronik) kepada berbagai lingkungan social masyarakat seperti melalui penyiaran langsung (tatap muka), meelalui surat kabar, majalah, jurnal, buku-buku, melalui radio dan kaset-kaset dakwah, pemanfaatan program televise (ceramah, fragmen drama dsb.) memproduksi slide dan film dakwah dan saluran-saluran lainnya yang sasarannya maupun pengaruhnya diharapkan meluas ke masyarakat.
2. Dalam melaksankan penyiaran islam (tabligh) tersbut secara khusus perlu dikembangkan / ditingkatkan pelaksanaan tabligh / dakwah di pusat-pusat keramaian (seperti bioskup dan tempat-tempat hiburan, pusat perbelanjaan, pasar-pasar, terminal, stasion, airport, dan sebagainya0, tempat-tempat rekreasi – pariwisata, hotel – hotel / penginapan – penginapan, sekolah-sekolah / kampus – kampus dan berbagai tempat atau pusa kegiatan massa lainnya dengan materi dan media yang tepat sesuai sasarannya.
3. Meningkatkan program penyiarn Islam di daerah pedesaan secara terencana dan terkait dengan program dakwah secara menyeluruh sesuai sesuai dengan permasalahan, kebutuhan an tantngan masyarakat desa setempat yang kini sedang mengalami perubahan social akibat modernisasi dan pembangunan.
4. Meningkatkan dakwah an amar makruf dan nahi munkar terhadap kecenderungan berbagai penyimpangan moral di masyarakat seperti tindak kriminalitas seperti pencurian, pembunhan, bunuh diri, pelacuran, hubungan tanpa nikah, perjudian, kenakalan remaja, dan sejenisnya dalam hal ini perlu pula ditingkatkan control social terhadap film-film, surat kabar-surat kabar, majalah-majalah, buku-buku dan media-media masa cetak maupun elektronik, yang menampilkan hal-hal yang porno dan adis, disamping control social terhadap bentuk penimpangan lainnya yang merugikan masa depan umat, masyarakat, bangsa dan Negara.

15. Program Persyarikatan (di Bidang Dakwah) Muktamar ke 43 (di Banda Aceh) ;

I. Bidang Dakwah.

a. Pengembangan media dakwah ;
1. Pemanfaatan maksimal seluruh media komunikasi modern seperti tv, computer, radio, telepon, buku, majalah dan Koran.
2. Penggalian tradisi dan budaya masyarakat untuk untuk diarahkan sesuai dengan ajaran Islam,
3. Komputerisasi jaringan dakwah dan pendataan di setiap PDM,
4. Pengembangan jaringan dakwah secara terlembaga di setiap PDM,
5. Pelibatan penyluh pembangunan ; Kesehtan, pertanian & perkebunan, industri dalam kegiatan khutbah dan pengajian,
6. Pelatihan komputerisasi dan pengembangan jaringan dakwah tingkat daerah, wilayah dan nasional masing-masing 50 – 100 mubaligh setiap tahun.
7. Pelatihan komputerisasi dan pengembangan jaringan dakwah tingkat daerah, wilayah dan nasional dua kali selama periode 1995 – 2000.
b. Pengembangan kemampuan professional mubaligh
1. Pelatihan penelitian dan perencanaan dakwah daerah, wilayah dan nasional bagi mubaligh dan pimpinan persyarikatan amal usaha setiap tahun.
2. Pelatihan menyusun peta dakwah daerah, wilayah dan nasional setiap tahun sekali.
3. Pelatihan ketrampilan menulis ; artikel, cerpen, novel, drama dan scenario film serta penytradaraan bagi mubaligh dan pimpinan persyarikatan di wilayah dan nasional minimal satu kali selama periode 1995 – 2000.
4. Pelatihan jurnalistik dakwa bagi mubaligh dan Pimpinan Persyarikatan tingkat wilayah dan nasional minimal satu kali selama periode 1995 – 2000.
5. Pelatihan pemanfaatan computer, tv, radio dan telepon bagi kegiatan dakwah tingkat wilayah dan nsional.
6. Pelatihan mengella kemampuan seminar dan diskusi bagi mubaligh dan pimpinan persyarikatan, tingkat wilayah dan nasional minimal satu kali selama periode 1995 – 2000
7. Pengembangn lembaga konsultasi pelayanan krisis social di tiap daerah dan wilayah.
8. Peningkatan mutu intelektual dan pendidikan mubaligh melalui sekolah terbuka dengan memanfaatkan jaringan masjid dan pengajian bekerja sama dengan perguruan tinggi Muhammadiyah minimal bagi mubaligh daerah dan wilayah.
9. Peningkatan mutu kehidupan ekonomi mubaligh dan pimpinan persyarikatan.
10. Pengembangan jaringan informasi dakwah di setiap daerah, wilayah dan nasional dalam peningkatan konsolidasi dan mobilisasi kegiatan mubaligh.
c. Pengembangan materi dan fungsi khuthbah dan pengajian
1. Peningkatan fungsi khutbah dan pengajian sebagai media pendidikan luar sekolah dalam kerangka wajar 9 tahun.
2. Pengembangan materi khtubah dan pengajian sebagai usaha meningkatkan kemampuan baca tulis Al Qur’an dan latin bagi jamaah.
3. Sistematisasi materi khutbah dan pengajian dengan kurikulum dan silabi terprogram untuk setiap cabang.
4. Penerbitan buku paket khutbah dan pengajian sesuai kurikulum dan silabi terprogram masing-masing sebanyak 50.000 eksemplar.
5. Memperbanyak kajian hakekata syari’ah dan akhlak social, ekonomi, politik dan budaya serta iptek melelaui pelatihan profesi mubaligh dan pimpinan persyarikatan tingkat daerah wilayah dan nasional.
d. Pengembangan peran jamaah masjid dan pengajian
1. Pengorganisasian jamaah masjid dan pengajian sebagai kelompok ekonomi dan (kelompok) belajar setiap masjid dan pengajian di cabang dan proyek percontohan cabang di kedudukan pimpnan daerah.
2. Pengembangan kelompok belajar bagi jamaah masjid dan pengajian usia muda guna mempertinggi daya kompetitif pendidikan dan kaderisasi mubaligh bekerja sama dengan perguruan tinggi Muhammadiyah dengan proyek percontohan di kedudukan pimpinan daerah.
3. Bimbingan perwakafan dan sertifikasi wakaf dan hak milik setiap masjid, mushala dan surau serta langgar.
e. Pengembangan kekayaan spiritual
1. Pengembangan pusat pelayanan dakwah krisis social di tiap daerah.
2. Pengembangan wisata dakwah dalam meningkatkan budaya jamaah dan silaturrahmi tokoh ulama setiap daerah sekaligus sebagai bimbingan keagamaan dan pelatihan mubaligh
3. Pengembangan jamaah bimbingan ritual keimana (religiusitas) kelompok strategis seperti shaaltulail / tahajud di kota-kota besar.
4. Bimbingan hidup dengan mental dan akhlak, yang besih, jujur dan ikhlas, semangat berkorban dan tolong-menolong.

16. Program Persyarikatan (di bidang Dakwah) Muktamar ke 44 di Jakarta 2000

17. Program Persyarikatan (di bidang Dakwah) Muktamar ke 45 di Malang 2005
……..
IV. Bidang Dakwah

1. Pimpinan Pusat perlu melaksanakan dan meningkatkan pelaksanaan dakwah jamaah dan gerakan dakwah jamaah, dakwah cultural, keluarga sakinah, dan dakwah pada komunitas adapt terpencil (KAT) dengan bekerja sama dengan semua komponen bangsa yang peduli.
2. Perlu ditingkatkan adanya penyebaran mubaligh khusus ke daerah-daerah sampai tingkat ranting dan daerah-daerah terpencil seperti melalui Gerakan 1000 dai.
3. Pimpinan Muhammadiyah agar segera menyusun peta dakwah secara nasional sebagai acuan dalam menjalankan kegiatan dakwah.
4. Menghidupkan kembali usaha-usaha Lembaga Dakwah Khusus untuk pelaksanaan dakwah pada daerah transmigrasi.
5. Membenahi manajemen dakwah Persyarikatan secara tersistem / terorganisasi dengan baik
6. Diperlukan juklak dan juknis untuk melaksanakan dakwah cultural agar lebih terorganisasional dan dapat dilaksanakan di seluruh lini Persyarikatan.

Wirokerten, 7 Desember 2006

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Mei 2012 in solo

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: