RSS

TAFSIR BINTUSY-SYATHI’ (MAKALAH)

17 Mei

PENDAHULUAN

Al Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam yang di dalamnya memuat nilai-nilai universal kemanusiaan. Al Qur’an diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi seluruh umat hingga akhir zaman. Untuk mendapatkan petunjuk itu manusia harus membaca, mengkaji, kemudian mengamalkan apa yang ada dalam al Qur’an tersebut. Sejalan dengan perkembangan zaman dengan segala macam permasalahan al Qur’an dan ilmu pengetahuan, maka semakin berkembang pula penafsiran-penafsiran terhadap al Qur’an sebagai usaha mewujudkan kemaslahatan bersama.
Dalam menafsirkan ayat-ayat al Qur’an, tentu masing-masing mufasir memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam makalah ini kami berusaha menjelaskan tentang biografi singkat, hasil karya, metode penafsiran yang beliau pakai yang konon adalah warisan dari suaminya yaitu Amin al Khulli, serta beberapa contoh ayat dalam pemikiran Bint asy Syathi’.

PEMBAHASAN
A. Biografi Bint asy Syathi’
Nama asli Bint asy Syathi’ adalah Prof. Dr. ‘Aisyah Abdurrahman. Nama Bint asy Syathi’ merupakan nama yang dia pakai saat menulis karena dilahirkan dan dibesarkan di tepian sungai Nil. Bint asy Syathi’ memiliki arti anak perempuan pinggir (sungai). Beliau lahir di Dumyat. Bint asy Syathi’ dibesarkan di tengah keluarga yang taat dan shalih.
Kesibukannya dalam dunia tulis menulis bukanlah merupakan penghambat proses studinya. Tahun 1936, ia menyelesaikan studi S1 di Universitas Cairo Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab. Kemudian merampungkan program magister di universitas dan jurusan yang sama pada tahun 1941 dengan judul tesis al Hayât al Insâniyyah ‘Inda Abi ‘Ala’. Suaminya Amin A. Khuli merupakan pakar ilmu tafsir selain membimbing dalam keluarga, iapun juga banyak memberikan pengaruh terhadap pemikiran Bintu Syati’. Hal ini terlihat dari corak beberapa pemaparan yang disampaikan Bintu Syati’. Tahun 1950 iapun merampungkan studi doktoralnya dengan DR. Thaha Husein sebagai dosen penguji. Dengan judul disertasi Risâlatul Ghufran Li Abil ‘Ala’, Bintu Syati’ meraih predikat cumlaude.
Ilmu-ilmu yang telah diserap di bangku kuliah, kemudian ia sampaikan di beberapa universitas. Selama puluhan tahun Bintu Syati’ mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan dan studi Al Qur’an. Di antara universitas yang pernah ia ampu; Universitas Qarawiyyin Maroko, Universitas Cairo Mesir, Universitas ‘Ain Syams Mesir, Universitas Umm Durham Sudan.
Di tahun 60-an, beliau sering memberi kuliah di hadapan para sarjana di Roma, Aljazair, Baghdad, Khartoum, New Delhi, Rabat, dan beberapa daerah lain. Pada tahun 1970-an, baliau adalah professor sastra dan bahasa arab di Universitas ‘Ayn Syam, Mesir. Selain itu , beliau juga mengajar di Universitas Umm Durham Sudan, Universitas Qarawiyyin, Maroko. Karya-karyanya yang dipublikasikan meliputi studinya mengenai Abu al ‘Ala’ al Ma’ari, al Khansa’, juga biografi ibunda Rasulullah saw, istri-istri beliau, anak-anak perempuannya, serta cucu dan buyut perempuannya. Karya tafsirnya, Al Tafsir al Bayani li al Qur’an al Karim vol. 1 (1962) kemudian dicetak ulang pada tahun 1966 dan 1968, edisi bajakannya terbit di Beirut. Vol II kitab tafsirnya terbit pada tahun 1969 dan mendapat sambutan luar biasa. Metode kajian tafsir Bintusy Syathi’ memberi pengaruh pada banyak orang. Metodenya itu dia peroleh dari gurunya di Universitas Fuad I yang kemudian menjadi suaminya, yaitu Amin al Khulli (wafat pada tahun 1966).

B. Karya-karyanya
Beberapa hasil karya beliau yakni buku-buku yang telah dipublikasikan ada 18 buku. Sedangkan karyanya yang berhubungan dengan kajian-kajian al Qur’an ada 7 kitab, antara lain:
1. Al Tafsir Al Bayaniy liy al Qur’an al Karim vol. 1
2. Al Tafsir Al Bayaniy liy al Qur’an al Karim vol. 2
3. Kitabuna al Akbar
4. Maqal fiy al Insan, Dirasah Qur’aniyyah
5. Al Qur’an wa al Tafsir al ‘Asriy
6. Al I’jaz al Bayaniy liy al Qur’an
7. Al Syakhshiyyah al Islamiyyah, Dirasah Qur’aniyyah

C. Karakteristiknya
Di dalam tafsir Bintusy Syati’ memusatkan perhatian pada kesusastraan Arab. Dalam pendahuluannya ia mengemukakan bahwa ia menempuh metode ini untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan dunia, sastra dan bahasa. Dikatakannya pula bahwa ia pernah meyampaikan kajian terhadap masalah tersebut diberbagai kongres nasional. Pembahasan yang disampaikannya dalam bagian studi islam adalah musyhilatut taraduf al-Lughawi fi dau’it tafsiril bayani lil Quranil Qarim. Ia mengatakan “ dalam pembahasan tersebut dijelaskan bagaimana hasil penelitian cermat terhadap kamus lafaz-lafaz quran dan dalalah di dalam konteksnya. Hasil penelitian itu mengungkapkan bahwa quran menggunakan sebuah lafaz dengan dalalah tertentu yang tidak mungkin dapat diganti dengan lafaz lain yang mempunyai makna sama. Seperti yang diterangkan oleh kamus bahasa dan kitab tafsir, baik jumlah lafaz yang dikatakan sebagai sinonim itu sedikit maupun banyak.
Bintusy syati’ mencela kesibukan mempelajari sastra dengan metode mualaqat polemic, keroyalan, khamariyat dan hamasiyat fanatisme tanpa merujuk pada quran. Dia berkata kita di universitas meninggalkan hazanah yang sangat bernilai (Quran) ini untuk pengkajian tafsir

D. Metode Penafsiran
Karakteristik khusus yang membedakan cara pandang Bintusy Syathi’ dengan mufasir lain adalah bahwa dia lebih menonjolkan dari segi sastra. Pendekatan yang baliau pakai adalah dengan metode semantik. Metode penafsiran yang digunakan Bintusy Syathi’ dalam menafsirkan ayat al Qur’an yaitu: metode yang biasa disebut sebagai metode munasabah, yaitu metode mengkaitkan kata atau ayat dengan kata ayat yang ada di dekatnya dan bahkan ayat yang berjauhan. Langkah pertamanya yaitu dengan mengumpulkan kata dan penggunaanya dalam beberapa ayat al Qur’an untuk mengetahui penjelasan apa saja yang terkait dengan sebuah kata yang ditafsirkan atau diberi penjelasan. Selain itu, Bintusy Syathi’ berkeyakinan bahwa kata-kata dalam bahasa arab al Qur’an tidak ada sinonim. Satu kata hanya memiliki satu makna. Apabila orang mencoba untuk menggantikan dengan kata lain maka al Qur’an akan kehilangan ketepatan dan keindahannya. Bintusy Syathi’ juga membicarakan perihal asbabun nuzul. Menurutnya, ketentuan suatu masalah atau teks bukan karena asbabun nuzul. Sekalipun suatu ayat tidak ada asbabun nuzulnya, ayat tersebut tetap akan turun. Jika suatu ayat ada asbabun nuzulnya, itu hanya kebetulan saja ayat tersebut turun bersamaan dengan suatu kejadian yang terjadi di Arab. Pernyataan Bintusy Syathi’ ini terbukti bahwasaanya tidak semua ayat al Qur’an itu memiliki asbabun nuzul. Beliau menolak untuk menganggap setiap peristiwa dalam asbabun nuzul tersebut sebagai sebab atau bahkan tujuan turunnya wahyu, tapi sekadar kondisi-kondisi eksternal dari pewahyuan itu, sehingga penekanannya diletakkan pada universalitas makna dan bukan pada kekhususan kondisi tersebut.
Usahanya menyingkirkan unsur-unsur luar dan asing terhadap pemahaman ayat al Qur’an, beliau menolak terlibat pada pembahasan-pembahasan mendetail mengenai materi-materi yang berhubungan dengan kitab injil dan rekaman-rekaman Arab dan non Arab yang bersifat mistik atau historis, jika di dalam al Qur’an terdapat rujukan tersebut.
Bintusy Syathi’ juga mengajukan satu masalah yang penting sehubungan dengan sejauh mana orang dapat membuat tafsir. Ia sendiri berpandangan bahwa semua orang berhak memahami al Qur’an sesuai dengan kemampuan mental dam pengetahuan yang dimilikinya. Tetapi menerbitkan karya tafsir ke khalayak umum, hanya pada spesialis di bidang tafsirlah yang mempunyai hak untuk melakukannya. Seorang mufasir dituntut berpengetahuan luas dalam ilmu-ilmu bahasa arab, seperti tata bahasa, gaya bahasa serta ilmu-ilmu al Qur’an. Ia juga harus berpengetahuan luas dalam ilmu-ilmu hadis, teologi, hukum, ilmu-ilmu tentang bid’ah dan sejarah Islam.
Tafsir Bayani ini dengan lengkap memuat seluruh pemikiran serta pemahaman Syati’ dalam ilmu Qur’an. Beberapa konsep tentang terma ilmu Qur’an beliau paparkan dengan sistematis. Tak ayal jika kitab tafsir ini kemudian diterjemahkan ke beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Beliau belum secara lengkap menafsirkan seluruh surat yang ada didalam Al Qur’an, melainkan hanya 14 surat, yaitu; Surat At Takatsur, Balad, Nazi’at, ‘Adiyat, Al Zalzalah, As Syarkh (Insyirah), Dhuha, Al Ma’un, Humazah, Fajr, Lail, ‘Asr, Al Alaq, Qalam.
Dalam menganalisa teks Al Qur’an, Bintu Syati’ banyak dipengaruhi metodologi yang disampaikan sang suami, Amin Khuly. Metode yang diterapkan dalam tafsirnya berbasis pada analisa teks sebagaimana berikut;

  • Memperlakukan apa yang ingin dipahami dalam Al Qur’an seara Objektif, hal ini dengan mengumpulkan seluruh surat dan ayat yang akan dipelajari. Dalam muqaddimah tafsir beliau mengungkapkan tentang metode tanâwul maudhu’i (tematis) sebagai pisau analisanya.
  • Untuk memahami konteks pewahyuan, maka ayat-ayat disekitas gagasan tersebut harus disesuaikan dengan kronologi pewahyuan (asbab nuzul). Kemudian sebab-sebab peristiwa tersebut bukanlah merupakan syarat mutlak pewahyuan. Menurut kaidah ushululiyyah; “inna ‘ibrah bi umûmil lafdzi la bikhususi sabab”.
  • Untuk memahami dilalah alfadhz yang disampaikan Al Qur’an, maka diperlukan pemahaman yang mendalam tentang bahasa Arab dengan mencari arti linguistis asli.
  • Dalam pemahaman pernyataan-pernyataan yang sulit, naskah yang ada harus dipelajari kemungkinan maksudnya dengan mengkomparasikan dengan pendapat para ulama.

E. Aplikasi dalam Penafsiran
Berikut beberapa penafsiran ayat dari Bintusy Syathi dalam kitab Tafsir Bintusy Syathi’. Tafsir surat an Nazi’at ayat 1-4 sebagai berikut:
yang artinya: Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut, dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan dunia.
Surat ini termasuk surat Makkiyah dan ke delapan puluh satu menurut tartib nuzul, serta turun sesudah surat an Naba’. Surat ini dimulai dengan wawu qasam yang diikuti dengan lima sifat berturut-turut dalam lima ayat. Dihilangkannya maushuf didalamnya dan digantikannya dengan sifat, telah memperluas perkiraan-perkiraan oleh para mufasir. Perselisihan pendapat memanjang terutama tentang pengertian an Nazi’at karena kata tersebut ada di awal surat. Kemudian setiap pendapat menentukan pengarahan ayat-ayat sesudahnya, dengan keinginan dalam keadaan bagaimanapun untuk menjelaskan keagungan an Nazi’at karena datang sesudah wawu qasam. Diantara pendapat-pendapat yang dikeluarkan oleh para mufasir, pendapat yang paling masyhur adalah malaikat-malaikat yang mencabut nyawa anak Adam. Itu merupakan salah satu dari tiga pendapat yang dipilih Al Zamakhsyari. Dua pendapat lainnya adalah bintang-bintang dan kuda-kuda para penakluk. Sedangkan Ar Raghib menafsirkannya sebagai malaikat-malaikat atau angin. Dengan menelaah surat-surat yang dibuka dengan wawu qasam, tampaklah bagi kita bahwa al Qur’an lebih banyak menggunakan ungkapan-ungkapan material dan terindra serta realistis, bahkan dapat dilihat. Hal itu tampak dalam beberapa ayat berikut:dan beberapa ayat al Qur’an yang lain dengan wawu qasam yang mendahului sesuatu yang terindra. Semua ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat makiyyah. Di hadapkan pada masalah bahwa wawu qasam yang mendahului kepada sesuatu yang bersifat materi dan dapat dijangkau, Bintusy Syathi’ tidak puas dengan penafsiran an Nazi’at dengan pendapat kebanyakan para mufasir yaitu bahwa an Nazi’at adalah malaikat-malaikat yang mencabut ruh. Sebab malaikat dalam kawasan mencabut nyawa tersebut tidak termasuk ke dalam kawasan indrawi yang terjangkau. Bintusy Syathi’ lebih puas menafsirkan an Nazi’at dengan kuda yang menyerang, tanpa membatasinya dengan kuda para penakluk. Dengan menafsirkan an Nazi’at sebagai kuda, maka yang demikian akan mengarahkan ayat-ayat sesudahnya dengan mudah. Misalnya kuda-kuda itu lepas dalam berlari dan tenggelam. Dengan alasan yang sama, al sabh yang subjeknya al sabih menghimpun kekuatan. Dengan lari yang kencang inilah kuda-kuda sampai ke tujuan, lalu diatur segala urusan dan permasalahan dengan sebaik-baiknya. Penafsiran sejenak kembali pada arti kata an naz’ secara linguistik, yang berarti menarik, menyeret, dan mencabut. Darinya muncul kata al munaza’ah yang berarti tarik menarik dalam permusuhan. Kata ini digunakan dalam al Qur’an untuk menunjukkan kuatnya tarikan dan kekerasan, sehingga menjadi kukuh dan mantap. Beberapa ayat yang menunjukkan makna tersebut antara lain: surat al A’raf ayat 27, surat al A’raf ayat 108, surat asy Syu’ara ayat 33, surat Hud ayat 9, surat Ali Imran ayat 26, dan surat al Qamar ayat 20. dan sifat neraka jahannam adalah nazza’atan lisysyawa (mengelupas kulit kepala) seperti dalam surat al Ma’arij ayat 16. Al Gharqa menurut asalnya adalah masuk ke dalam air dan ia digunakan secara majaz dalam memasukkan bencana dan nikmat. Di dalam al Qur’an, kata gharq (tenggelam) disamping termuat dalam surat an Nazi’at datang sebanyak 22 kali dalam berbagai bentuk baik subjek, objek maupun predikat dan secara linguistik bermakna yang pertama. Az Zamakhsyari menafsirkan gharqa dalam surat an Nazi’at sebagai kuda yang lari kencang sehingga kendali masuk ke dalamnya karena panjang lehernya. Sedangakan Bintusy Syathi’ mengartikannya dengan kuda yang berlari kencang karena kuat dan gagah serta kuat kendalinya. Materi nun syin tha’ pada ayat 2 tidak termuat dalan al Qur’an kecuali pada surat an Nazi’at ini. Nasyith secara bahasa digunakan pada asalnya untuk ikatan yang mudah dilepaskan. Maka nasyitha berarti lepas dengan mudah. Bintu Syathi’ menambahkan bahwa apa mengikatnya dengan asal bahasanya yaitu lepas dari ikatan. Pada ayat ke tiga, as Sabh adalah berenang, atau berjalan cepat dalam air atau di udara. Tetapi ia digunakan dalam bahasa kuda-kuda sehingga dikatakanlah kuda itu as sawabih. Kuda berenang dalam air itu bukan pada tempatnya. Yang demikian menuntut terhimpunnya kekuatan dan kerasnya penderitaan yang sesuai dengan lari yang sangat kencang. Kemudian pada ayat selanjutnya, as sabq adalah maju yang di dalamnya tersirat kecepatan dan perlombaan. Penggunaannya untuk kuda adalah jelas. As Sabq di sini adalah pengaruh kekuatan yang dihimpun oleh kuda saat berlari kencang dan berenang dengan tangkas. Selanjutnya pada ayat ke lima, dapat diamati dari kata tadbir di dalam al Qur’an bahwa kata kerja tersebut datang dalam bentuk sekarang dan disandarkan kepada Allah swt. Apabila memahami an Nazi’at dalam larinya yang cepat dan berpacunya yang kencang, maka tadbir adalah puncak dari himpunan kekuatan yang dikehendaki, yaitu urusan penaklukan dan penentuan.

KESIMPULAN
Bintusy Syathi’ adalah mufasir era kontemporer dengan keahliannya dalam bidang sastra, maka beliau mengangkat penafsiran ayat-ayat al Qur’an dengan menonjolkan segi semantik. Metode yang digunakan adalah dengan munasabah dan tidak terlalu berkutat pada asbabun nuzul suatu ayat. Beliau berusaha seobyektif mungkin membiarkan teks al Qur’an berbicara dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.ushuluddins.multiply.com/journal/item/4
http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=34522781&postID=7451209554764023039 – _ftn4
http://www.qamazaidun.blogspot.com/2008/04/pendekatan-baru-penafsiran-al-quran.html
Manna al- Qathan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, hal: 515
‘Abdurrahman ‘A’isyah, Tafsir Bintusy-Syathi’, Bandung: Mizan, 1996.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Mei 2012 in solo

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: