RSS

TASHAWWUF MENURUT TINJAUAN ISLAM

17 Mei

Pada zaman jahiliyah yang namanya dien yang diartikan agama itu telah ada. Demikian pula yang menjadi aqidah mereka sudah dijelaskan Allah:
“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (nuh 23)
Menurut keterangan ibnu abbas, mereka yang tersebut pada keterangan di atas (Waad, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr) adalah orang yang shaleh pada kaum Nuh. Tapi tatkala mereka sudah mati, orang-orang yang berdiam semacam semedi di atas kuburan-kuburannya, lalu mereka mematungnya, kemudian mereka berharap sesuatu dengan kepercayaan dan bahkan mereka menyembahnya.”
Umm salamah pernah melihat sebuah gereja yang bernama Mariya di negeri Habsyah (Negeri Nashara, Ethiopia). Lalu hal itu beliau terangkan kepada Rasulullah saw dan beliau bersabda, “Mereka itu adalah suatu kaum yang bila mati di kalangan mereka orang-orang yang shaleh, mereka mendirikan sebuah bangunan tempat ibadah di atasnya dan mematungkan orang yang mati itu. Mereka itu adalah sejahat-jahat manuasia pandangan Allah”. H.R. Al-Bukhari.
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. (azzumar 3)

Nabi diutus dengan membawa wahyu al-Qur’an dan membawa sebanyak itu pula penjelasannya. Semua itu telah beliau amalkan bersama-sama dengan para sahabat beliau, sehingga menjadi suatu jama’ah yang mengamalkan sunnah Rasul sebagai penterjemah al-Qur’an. Baik dengan perkataan, amal maupun persetujuan beliau terhadap perkataan dan amal shahabat. Dan inilah Islam.
Pada suatu kesempatan beliau saw pernah mengajukan suatu pertanyaan kepada shabatnya, “Bukankah kalian bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku Rasulullah?” mereka menjawab : “Benar.” Selanjutnya belaiau bersabda, “Sesungguhnya al-Qur’an ini ujungnya pada tangan Allah dan ujungnya (yang satu lagi) pada tangan kalian. Peganglah erat-erat, pastilah kalian tidak akan tersesat samapai kapanpun.”
Rasulullah sebagai petunjuk dan pembimbing jalan, cara bertaqarub dan cara beribadah kepada Allah yang tidak ada satupun jalan yang lain yang akan diteriama-Nya kecuali menurut petunjuk dan bimbingan Rasul-Nya itu.
Dalam hidup keseharian beliau sangat sederhana, tidak hidup bermewah-mewah, tidak makan kecuali kalau lapar dan kalau makan tidak sampai kenyang. Menurut sebuah riwayat, pada suatu hari beliau masuk ke masjid. Ternyata Abu Bakar dan Umar ra, telah berada di situ, beliaupun berkata, “Megapa anda berdua berada di masjid? Kedua sahabat mulia itu menjawab, “Kami berada di masjid sekedar hanya untuk menghibur laparku, marilah kita pergi ke rumah Abu Haetsam, mudah-mudahan disana ada sesuatu yang dapat dimaka.”
Kedatangan beliau beserta Abu Bakar dan Umar, disambut gembira oleh Abu Haetsam. Tidak berlama-lama segera dibuatlah makanan yang enak, disembelih pula seekor kambing dan dihidangkan pula beberapa mangkuk air dingin, lalu mereka makan dengan lahap. Kata beliau, “Inilah Ni’mat Tuhan.” Sekian banyak keterangan yang menerangkan kesederhanaan dan kessehajaan kehidupan Nabi saw. Padahal kalau beliau mau, dunia ini dapat diraihnya :
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Al ‘Araaf 188)
Tatkala kekayaan melimpah ruah, berupa kiriman dari Bahrain, beliau hanya memerintahkan agar dikumpulkan saja di masjid, kemidian beliau shalat dan tidak menghiraukan tumpukan kekayaan itu. Semuanya habis digunakan dan diberikan kepada yang berhak.
Abdurrahman bin ‘Auf menceritakan, bahwa Nabi saw, tatkala wafat, tidak meninggalkan harta kekayaan kecuali sebilah pedang, seekor keledai tunggangan sehari-hari beliau, adapun sebidang tanah telah diwaqafkan yang kemudian menjadi masalah antara Fatimah dan Abu Bakar selaku Khalifah.
Dalam hal ibadah, beliau selalu mengimani shalat berjamaah dan malamnya selalu melakukan shalat tahajud. Menurut riwayat, bila bacaan suratnya masih diteruskan, padahal beliau sudah lemah untuk berdiri, maka beliau membacanya sambil duduk, lalu kira-kira dua puluh atau tiga puluh ayat lagi beliau berdiri kembali dan melanjutkan bacaan surat itu, rata-rata shalatnya itu baru selesai setelah hampir mendekati subuh, kemudian berbaring. Bilal datang menjemputnya dan orang-orang sudah menunggu berjamaah subuh itu.
Setelah beliau wafat, perilaku ini dilanjutkan oleh sahabat-sahabat beliau, baik tentang zuhudnya terutama pula dalam hal ibadah. Telah menjadi pengetahuan semua orang, bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Ra dijuluki Khalafur Rasyidin, Rasulullah saw berpesan,
“Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khalafur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku.”
Mereka adalah para pelaku pelanjut sunnah Rasul. Namun demikian tidak terlepas dari para sahabat-sahabat yang lainnya. Sesungguhnya bila ada seorang sahabat yang mengatakan atau melakukan sesuatu dan diketahui oleh sahabat yang lainnya, hal itu menjadi suatu ketetapan hokum (ijma’ shabat) yang menunjukan bahwa demikianlah telah berlaku dizaman Rasulullah saw.
Dalam hal ini, penulis merasa perlu sekedar mengemukakan beberapa contoh, antara lain: adzan awal Jum’at tidak pernah ada pada zaman Nabi saw, Abu Bakar maupun Umar, tetapi baru diadakan oleh Khalifah Utsman ra. Utsman tidak mengadakan adzan itu setelah masuk wwaktu Zuhur tetapi sebelumnya dan diadakan di tempat yang ramai yang waktu itu belum ada pengeras suara. Orang-orang semakin sibuk dengan urusannya masing-masing, selain itu orang-orang sudah menjadi banyak. Kalau demikian apakah yang menjadi dasar Utsman selaku khalifah mengadakan adzan itu?
Pada zaman Rasulullah saw, Bilal mengumandangkan adzan qabla subuh untuk membangunkan yang masih tidur dan memberitahukan orang-orang yang masih shalat malam, juga agar orang-orang yang sedang sahur dapat mengetahui bahwa subuh belum masuk. (H.R. Bukhari)
Umar bin Khatab ra, kadang-kadang menjaharkan doa iftitah, padahal doa iiftitah itu seharusnya dibaca dengan sir, kalau demikian apa dasarnya Umar membaca dengan diperdengarkan kepada makmum itu?
Rasulullah saw, kadang-kadang memperdengarkan bacaan al-Fatihah dan surat pada shalat zuhur dan ashar, padahal bacaan itu sir, hal ini beliau lakukan karena beliau memberitahukan kepada makmum agar mereka mengetahui (dalam rangka mengajarka). Dengan keterangan-keterangan diatas, apapun yang disepakati para sahabat pastilah ada dalil, tetapi perlu diingat ijma’ sahabat pun bukan merupakan dalil, tetapi dalilun ala wujudi dalilin. Dengan kata lain ijma’ itu bukan dalil tetapi menjadi cukup bukti akan adanya contoh dari Rasulullah saw. Jadi, sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa Islam adalah yang berdasarkan yang telah diterjemahkan seutuhnya oleh sunnah Rasul saw.

KAUM SUFI DAN TASHAWWUFNYA
Kata sufi dipertentangkan asal pengambilannya, dan tidak terjadi keseragaman pendapat. Tetapi banyak yang mengatakan bahwa itu terambil dari kata “Shuf” yang diartikan “wol” (bulu kambing). Tetapi sekarang wol merupakan barang komoditas yang bergengsi dan berpangsa pasar luas mencakup seluruh dunia. Terbukti sekarang ini hanya masyarakat dengan tingkatan social ekonomi tertentulah yang dapat mengenakan wol. Mungkin pengambilan kata “Shuf” di sini dimaksudkan bahwa kaum sufi tidak peduli menggunakan pakaian yang tidak nyaman, menggelikan, karena wol akan tidak nyaman jika dipakai langsung. Dengan demikian kaum sufi adalah kaum yang tidak memperdulikan ketidak-nyamanan jasmani demi mengejar kenyamanan rohani.
Akan halnya kata tashawwuf, tidak jauh berbeda dengan kata sufi. Tak terjadi kesepakatan tentang pengambilan asal katanya. Hanya saja banyak yang mengatakan bahwa kata tashawwuf diambil dari kata “Shafa” dan “tashawwafa” yang berarti bersih, maksudnya adalah meninggalkan kehidupan dan kesenangan duniawi yang dianggap kotor ddan meleburkan diri dalam kesenangan dan kepuasan rohani. Istilah sufi dan tashawwuf baru dikenal sekitar penghujung tahun dua ratusan setelah Rasulullah wafat.
Hingga berrakhirnya abad ini, pelaksanaan dan pengamalan hokum ilahi atau syariat-syariat ilahi masih diyakini merupakan satu-satunya jalan selamat dan mencapai keridhaan Allah.
Tetapi lain dengan kaum sifu menghabiskan hidup mereka dengan menyendiri bahkan memisahkan diri dari masyarakat, melakukan shalat sendirian dan melaparkan perut-perut mereka. Kepedulian mereka hanya kepada pembahasan-pembahasan takut dan kenikmatan buah-buahan surge. Ketimbang bagaimana mencapai keridhaan Allah dengan menjalankan seutuhnya syariat-syariat ilahi yang dibawa Rasul-Nya.
Maka pada abad kedelapan Masehi, para guru kaum sufi sudah tidak terkait lagi dengan syariat-syariat ilahi dalam melakukan shalat, saum. Zakat, dan doa-doa yang masyru’ atau segala yang diamalkan aatau diucapkan oleh Rasulullah. Tetapi mereka memiliki dan membuat syariat-syariat yang menurut mereka sudah sampai kepada thariqah yang menyampaikan mereka kepada hakikat dan kemudian ma’rifat. Kalaupun mereka bersedia membicarakan syariat ilahi, itu hanya sebatas pengetahuan dasar agar seseorang dapat memasuki jenjang spiritual yang lebih tinggi.
Kaum sufi menganggap thariqat (jalan sufi) secara umum diyakini sebagai tataran pertengahan yang menghubungkan syari’at dengan kebenaran atau hakikat. Karena itu mereka meyakini bahwa syariat ilahi di dalam dan pada hukumnya itu sendiri kering dan tidak memadai bagi sang penempuh jalan spiritual untuk mengetahui kebenaran.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Mei 2012 in Palembang, solo

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: