RSS

Prinsip-Prinsip Peripatetisme Islam

Salah satu ciri utama peripatetisme adalah epistemologinya yang berlandaskan pada metode logis Aristotelian, yang bersifat diskursif-demonstrational. Ciri Lain Aristotelian adalah hylomorfisme (berasal dari kata hyle, yang berarti materi, dan morph yang berati forma). Menuruti prinsip ini, segala sesuatu terbentuk sebagai komposit (gabungan) antara materi dan forma. Forma adalah aktualisasi (enteleki, entelechia) dari materi.

Jadi pada dasarnya, hymplomorfisme bersifat sepenuhnya material: segala sesuatu yang ada ini – menurut Aristoteles—bersifat sepenuhnya material. Dan jelas, ini tak sama dengan forma ideal Platonik. Yang disebut terakhir adalah semacam idea (gagasan) yang sepenuhnya bersifat immaterial (berada di alam nonmaterial) yang menjadi model yang dengannya segala sesuatu di dunia ini terbentuk. Gagasan tentang forma ideal platonik ini lebih terasa perannya dalam Iluminisme dan filsafat-filsafat iluministik lainnya.

Meski filsafat Islam sejak Al-Kindi –melewati, antar lain, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Thufail dan Ibn Bajjah—hingga Ibn Rusyd disebut sebagai bersifat peripatetik, pada kenyataannya banyak dipengaruhi Neo-Platonisme –kecuali Ibn Rusyd yang memiliki misi untuk membersihkan Aristotelianisme dari Neo-Platonisme. Neo-Platonisme adalah aliran yang dikembangkan terutama oleh Plotinus. Pengaruh ini secara langsung, bersumber pada sebuah ringkasan (parafrase) dari 3 Bab Ennead karya Plotinus, yang disalahpahami sebagai karya Aristoteles. Di dunia Islam, karya ini memang dikenal sebagai Atsulujia Aristuthalis (Theologia Aristoteles atau Teologia saja). Meski demikian, menurut hemat penulis, tak dapat dikatakan bahwa jika para filosof Muslim tak menemukan atau menyalahpahami karya Plotinus sebagai karya Aritoteles, maka filsafat Islam tak akan bersifat (Neo)-Platonik dan sebagai gantinya, bersifat sepenuhnya Aristotelian. Dengan satu dan lain cara, tampaknya Platonisme, yang lebih membuka ruang bagi yang spiritual dan yang religius, cepat atau lambat akan memberikan pengaruhnya kepada filsafat Islam yang, tentu saja, lebih memiliki afinitas kepada pemikiran yang bersifat religius pula. Memang, kenyataannya, berbeda dari Aristotelianisme murni, pembahasan dalam aliran ini sesungguhnya tak bebas dari iluminisme. Bahkan, untuk pertama kalinya Plotinus mengembangkan konsep tentang Tuhan (The One), sebagai tampak dalam paham emanasi, yang akan dibahas di bawah ini.

Adalah Ibn Sina yang biasa disebut sebagai filosof Muslim peripatetik par excellence. Memang tampak sekali ciri-ciri Aristotelian dalam pemikiran-pemikirannya. Namun, seperti juga pada para filosof Muslim lainnya yang bisa disebut sebagai bersifat peripatetik, orang tak akan gagal melihat besarnya pengaruh Neo-Platonisme dalam pemikirannya. Bahkan, di masa-masa lebih lanjut hidupnya, Ibn Sina menjadi lebih cenderung kepada tasawuf. Hal ini dapat dilihat dalam 3 bab terakhir buku Al-‘Isyarat wa Al-Tanbihat, yang merupakan salah satu karyanya yang telah matang. Dalam bab-bab yang dijudulinya Maqâmât Al-‘Arifin (Kedudukan-Kedudukan Para ‘Arif /Sufi) itu Ibn Sina benar-benar memfokuskan diri pada metode tasawuf. Tetapi, bukan hanya itu: dalam berbagai risalah-risalah ringkasnya, khususnya Risâlah fi Al-‘Isyq, nada Ibn Sina adalah sepenuhnya sufistik. Selain menjadikan kecintaan sebagai basis segala sesuatu, termasuk pengetahuan, Ibn Sina tak segan menggunakan kata ittihâd (penyatuan) dengan Tuhan sebagai puncak pengalaman manusia, menggantikan kata ittishâl (kontak) dengan Akal Kesepuluh yang biasa mencirikan pemikiran peripatetik. Tampak di sini pengaruh prinsip Sympathea (Sympathy atau Simpati) Plotian –yakni, bahwa sebuah kesatuan “sistemik” berdasar simpati atau cinta—di dalam pemikirannya mengenai masalah ini. Sebagian ahli yang lain –menyatakan bahwa pada akhir-akhir hidupnya, Ibn Sina menulis sebuah buku yang berjudul Mantiq Al-Masyriqiyyîn (Logika Kaum Iluminis) yang sepenuhnya iluministik, meski yang bisa ditemukan hanyalah bagian Mukadimahnya saja.

Bahkan Al-Farabi pun disebut-sebut sebagai memiliki gaya hidup seorang sufi. Sebagian juga menisbahkan buku Fushûsh Al-Hikam –berjudul sama tapi berbeda dengan buku karya Ibn ‘Arabi – yang sepenuhnya sufistik kepada filosof Muslim ini. Selanjutnya, tak sulit juga untuk melihat kandungan-kandungan iluministik dalam karya-karya Ibn Thufail (Hayy Ibn Yaqzhan, “Sang Hidup Putra Sang Jaga”) dan Ibn Bajjah (Al-Tadbir Al-Muwahhid, “Pemerintahan Sang Soliter”).

Emanasi Sebagai Basis Kosmologi

 Awalnya adalah Tuhan yang Tunggal, tak ada sesuatu selain-Nya. Lalu terjadilah emanasi (al-faidh) ilahi, yang darinya bermulalah proses penciptaaan alam semesta (ibdâ’). Alam semesta yang tercipta sebagi hasil proses emanasi ini tersusun dalam hierarki-hierarki. Mulai dari Allah –yang terttinggi, bahkan melampaui batas apapun—melewati wujud-wujud immaterial murni di bawahnya, hingga wujud paling rendah dari bagian material alam semesta.

Menurut teori emanasi ini, wujud Allah sebagi suatu wujud Intelegensia (Akal) Mutlak yang berpikir tentang dirinya, “sebelum” adanya wujud-wujud yang selain-Nya –secara otomatis menghasilkan —(yakni, memancarkan)—Akal Pertama (‘Al-Aql Al-Awwal) sebagai hasil “proses” berpikir-Nya. Menurut sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, “Yang Pertama kali aku ciptakan adalah al-‘aql, Sang Akal (akal Pertama).”

Pada gilirannya, Sang Akal –sebagai akal—berpikir tentang Allah dan sebagai hasilnya, terpancarlah Akal Kedua. Proses ini berjalan terus hingga berturut-turut terciptalah Akal Ketiga, Akal Keempat, Akal Kelima dan seterusnya hingga Akal Kesepuluh. Akal Kesepuluh ini adalah akal terakhir dan terendah dalam tingkatan-tingkatan wujud di alam imaterial.

Nah, di samping terciptanya akal-akal tersebut, proses ini juga menghasilkan terciptanya jiwa dan wadag planet-planet. Untuk menjelaskan masalah ini, marilah kita kembali kepada berbagai tingkatan akal tersebut. Selain berpikir tentang Allah sebagai Sumber Penciptaannya, Akal Kedua juga berpikir tentang dirinya sendiri. Namun, dari proses ini terpancarlah (baca: terciptalah) jiwa dan wadag planet tertinggi –yang pertama dalam tingkatan planet—yang disebut sebagai planet atau langit pertama (al-sama’ al-‘ûlâ). Selanjutnya, proses berpikir tentang diri sendiri ini dilakukan oleh Akal Kesepuluh dengan hasil terciptanya, secara berturut-turut, jiwa dan wadag bintang-bintang tetap (al-kawâkib al-tsâbitah), Saturnus, (Zuhal), dan seterusnya. Hingga terciptanya bulan (al-qamar) sebagai planet kesembilan dan bumi (al-ardh) sebagai planet kesepuluh. (Mengenai tingkatan-tingkatan wujud sebagai hasil proses penciptaan berdasarkan emanasi ini selengkapnya lihat bagan 1.)

Pertanyaannya, mengapa proses emanasi berhenti pada Akal Kesepuluh? Jawabannya jauh dari rumit. Hal ini terkait dengan perkembangan astronomi pada era filosof Muslim masa itu –yang diwarnai oleh pandangnan Ptolomeus. Dalam astronomi Ptolomeus, planet-planet dipercayai berjumlah sepuluh. Untuk menghasilkan sepuluh planet itulah, akal pun dibatasi hingga berjumlah sepuluh. Dan sudah tentu pandangan seperti ini sekarang sudah usang.

Kembali kepada penciptaan planet-planet, yang perlu diperhatikan adalah bahwa, berbeda dengan planet-planet lain, planet bumi tak lagi bersifat imaterial murni, tetapi telah merupakan campuran antara yang imaterial (’aql atau rûh) dengan yang material. Dengan kata lain, semua wujud i bumi merupakan gabungan (komposit) antara materi (maddah) dengan forma (shûrah) –yang bersifat imaterial. Sebagai ilustrasi yang paling jelas adalah manusia yang merupakan gabungan antara badan atau wadag yang bersifat materi dengan akal atau ruh yang bersifat imateri. Pada dasarnya, seluruh ciptaan –termasuk apa yang selama ini kita anggap benda mati—merupakan gabungan antara maateri dan ruh seperti disinggung di atas, jiwa-jiwa. Di bumi ini tak ada materi mutlak atau pun akal atau ruh mutlak. Untuk benda mati, forma (shûrah) itulah akal atau ruhnya.

[Catatan: Hierarki, yang sudah melibatkan keberadaan malaikat, adalah gagasan Ibn Sina. Dalam Al-Farabi, meski hierarkinya amat mirip, konsep tentang malaikat-malaikat yang sejajar dengan setiap planet belum lagi muncul. Tentu saja, gagasan-gagasan tentang (hierarki) malaikat muncul secara lebih terelaborasi dalam filsafat Suhrawardi].

Nah, aspek materi ciptaan atau wujud di bumi terbentuk di bawah pengaruh planet bulan. Sementara itu, forma diberikan oleh Akal Kesepuluh. Ini sebabnya Akal Kesepuluh disebut sebagai Pemberi Forma (Dator Formarum atau Wahb Al-Shuwar) yang sering sekali diidentikkan dengan Malaikat Jibril.

Memang, Akal Kesepuluh, yang juga biasa disebut sebagai Akal Aktif (Al-’Aql Al-Fa’al) ini juga bertugas untk memberikan –tepatnya, seperti akan kita lihat dalam pembahasan kita tentang akal di bawah ini, mengaktualisasikan –intelek (akal) manusia dan dengan demikian, ”memberi”nya ilmu (pengetahuan). Yang terakhir ini bisa disebut sebagai pencerahan (ilhâm), atau wahyu jika terkait dengan para nabi. Jika rantai proses penciptaan di alam imaterial bersifat menurun, rantai hierarki maujud di bawahnya –yakni di alam (gabungan antara yang imaterial dan) material –bersifat menaik.

Seperti telah disinggung di atas, yang terendah di alam seperti ini adalah materi murni –yang pada praktiknya tidak ada. Nah, dalam filsafat Islam maujud komposit yang biasa disebut sebagai jiwa mineral (al-nafs al-’aqdiyyah) –adalah yang unsur materinya relatif paling dominan. Dari sini, kita mendapati berturut-turut jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabâtiyyah), jiwa hewan (al-nafs al-hayawâniyyah), dan jiwa manusia yang berpikir (al-nafs al-nâthiqah). Lihat Bagan 2 berikut ini.

Jiwa yang di atas merupakan pengembangan –sebutlah evolusi, jika mau—dan meliputi, jiwa yang lebih rendah. Setiap bagian jiwa ini menyumbang pada natur manusia. Jiwa tumbuhan menyambung pada aspek vegetatif (nutritif dan apetitif) manusia, sementara jiwa hewan menyumbangkan aspek emosi (syahwat) padanya.

 Akal dan Pembagian-Pembagiannya

Seperti diuraikan sebelumnya, di atas segalanya, manusia adalah hewan yang berpikir (al-hayawân al-nâthiq). Lalu, bagaimanakah struktur, tingkatan-tingkatan dan fungsi unsur-unsur jiwa, berpikir (al-nafs al-nâthiqah) manusia. (lihat bagan 1)

Tingkatan terendah akal manusia adalah Akal Potensial (al-‘Aql bi Al-Malakah). Setelah mendapatkan stimulasi dari (persepsi) indrawi, yang kemudian diolah di bagian-bagian akal yang rendah. Akal Potensial, pengetahuan tersebut masih terdapat dalam keterikatannya dengan persepsi indriawi, pada tingkat Akal Aktual, pengetahuan tersebut telah dilepaskan darinya dan dengan demikian menjadi forma (sepenuhnya).

Ketika akal manusiatelah mencapai tingkat capaian (mustafâd) dan bersifat sepenuhnya formal (berasal dari kata forma), terbukalah peluang untuk berhubungan –secara teknis disebut sebagai (itishâl)—dengan Akal Aktif, yang juga sepenuhnya bersifat formal. Pada saat inilah pencerahan akal manusia oleh Akal Kesepuluh mengaktualisasikan ilmu pengetahuan dan dengan demikian, manusia menjadi “tahu” atau tercerahkan tentang hal-hal yang belum diketahuinya pada tingkat-tingkat akalnya yang lebih rendah.

Itulah pandangan Al-Farabi. Namun dalam Ibn Sina masih ada tingkatan yang lebih tinggi yang disebut sebagai akal suci (al-‘aql al-qudsi). Akal suci adalah tingkatan akal yang hanya bisa dicapai oleh orang-orang dengan tingkatan intelektual yang paling tinggi. Jika pengetahuan yang diperoleh lewat kontak akal capaian dengan Akal Kesepuluh lebih bersifat filosofis, sementara yang berbasis akal suci mengambil bentuk ilham atau wahyu.[ ]

Note:

Makalah ini dipresentasikan dalam Paket Kajian Filsafat Islam ICAS-Jakarta (Tgl: 21 April 2006)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: